02.06.08

Tips Menghadapi Dosen Pembimbing Killer

Posted in Duniawi tagged , , , , , , , at 5:25 am by revuesuper

Saya yakin teman-teman yang sedang mengerjakan tugas akhir atau skripsi sebagai salah satu syarat kelulusan sarjana S1 pernah mengalami jantung berdegup kencang, keringat dingin, gugup, dan rasanya ingin cepat-cepat keluar dari ruangan dosen pembimbing. Hal tersebut dapat terjadi ketika kita berhadapan dengan dosen pembimbing yang killer minta ampun; susah ditelepon, jutek, suka sentimen, idealis dan perfeksionis. Tapi apakah hal itu menjadi kendala atau penghalang kelulusan? masa’ sih gara-gara dosen pembimbing yang killer, kita sebagai mahasiswa sejati menjadi lama lulus bahkan hampir didropout?

Tips-tips di bawah ini bisa berguna, baca saja…

1.Tetap tersenyum

2Terima kritikan dari dosen pembimbing sambil tetap tersenyum atau tertawa jika kamu anggap kritikan itu lucu.

3. Akui bahwa kamu adalah mahasiswa yang memang membutuhkan seorang pembimbing dalam menyelesaikan tugas akhir atau skripsi

4. Akui kebodohan dan kesalahan

5. Camkan dalam hati dan pikiran, Dosen juga manusia;stress dan frustrasi karena konflik rumah tangganya,manusia bisa marah,manusia bisa lupa, pokoknya semua tetek bengek yang ada hubungannya dengan manusia.

6.Pede aja! Ingatkan jika beliau lupa (kan dosen juga manusia…)

7. Jangan coba-coba membantah pendapat atau pernyataan dari dosen pembimbing yang killer

8. Jangan coba-coba memberi pendapat pribadi tanpa dibubuhi referensi ketika ditanya oleh dosen pembimbing killer. Kalau gak tau ya ngaku aja deh…

9.Tunjukkan kepada beliau bahwa kamu akan mencari semua pertanyaan dari beliau melalui berbagai sumber dan jangan takut untuk meminta jawaban dari beliau langsung.

10. Latihlah diri kita untuk menjadi orang yang rendah hati.

11. Terakhir nih…berdoa’a. Ya berdo’a…kan mahasiswa juga manusia

11.19.07

Dry Mass or Dry Weight

Posted in Gampang tapi Sulit tagged , at 2:23 am by revuesuper

Dry Mass is a more reliable indicator of biomass due to the fact that fresh measurements are dependant on fluctuating water concentrations in the biological material measured.

Dry Weight (dried material) is the plant, animal, or other material containing the chemical of interest is dried to remove all water from the material. The amount of the chemical found in subsequent analysis is then expressed as weight of chemical divided by weight of the dried material which once contained it.

Dry weight is the weight measured after all the water from the specimen has been removed. For the case of photosynthesis, this dry weight will be used as a measure for the amount of carbohydrate produced by photosynthesis. Dry weight is a much more accurate way of measuring than using normal weight as the amount of water present in the plant may fluctuate and give incorrect readings.

10.08.07

bergantung padaNya

Posted in Akhirat tagged , , , at 8:24 pm by revuesuper

Suatu saat, seorang sufi bernama Khafif pergi menunaikan haji dengan hanya membawa sebuah ember dan seutas tali untuk menimba air minumnya. Di tengah perjalanan, ia melihat beberapa ekor kijang sedang berdiri di tepian sumur, sedang meminum air dari sumur itu. Ketika Khafif mendekati sumur, kijang-kijang itu pun berlari menjauh dan permukaan air sumur mendadak turun.Sekuat apa pun Khafif berusaha, ia tak juga dapat menimba air sumur itu. ia berdoa kepada Tuhan untuk menaikkan kembali permukaan air sumur itu seperti yang telah Tuhan lakukan untuk para kijang.

Lalu Suara Yang Agung menjawab, Kami tak dapat mengabulkan doamu; karena kau lebih bergantung kepada ember dan talimu daripada kepada kami. Ketika itu juga, Khafif membwang ember dan tali yang dibawanya dan permukaan air sumur pun langsung naik kembali. Segera Khafif menghapus rasa dahaganya.

Sepulang dari haji, Khafif menceritakan pengalamannya kepada Junaid Al-Baghdadi. Junaid berkata, Tuhan telah menguji kebergantunganmu kepadaNya. Jika saja kau menunggu sedikit lagi, air sumur itu akan meluap ke luar.

penderitaan adalah awal pencerahan II

Posted in Akhirat tagged , , , at 8:23 pm by revuesuper

Seorang koki memasukkan buncis ke dalam kuali yang penuh minyak untuk dimasak. Buncis itu melompat-lompat kepanasan, ia meronta, meloncat ke tepi kuali dan berteriak, “Mengapa kau bakar aku? Tak cukupkah kau telah beli aku? Mengapa kau juga harus menyiksaku?”Koki itu membenamkannya kembali ke dalam kuali dengan sendoknya dan berkata, “Tenanglah, mendidihlah engkau dengan baik! Jangan lompat terlalu jauh dari ia yang menyalakanmu. Aku tak merebusmu karena aku membencimu. Aku memasakmu agar kau menjadi lezat dan penuh cita rasa. Agar kau dapat menjadi makanan dan bersatu dengan kehidupan. Penderitaanmu tak disebabkan karena aku menghinakanmu! Ketika kau segar dan hijau, kau selalu meminum air di kebun. Kau meminum air itu untuk bersiap menghadapi api ini.”

Kasih sayang Tuhan lebih besar dari penderitaan yang Dia berikan. Kasih sayang-Nya senantiasa lebih besar dari murka-Nya. Kau dididihkan dalam penderitaan dan kesengsaraan, tiada lain agar ego dan eksistensi dirimu lenyap tak berbekas! Kau berubah menjadi makanan, kekuatan, dan fikiran yang luhur. Dahulu kau lemah, kini kau seperkasa singa hutan

Penderitaan adalah awal pencerahan I

Posted in Akhirat tagged , , , at 8:21 pm by revuesuper

Suatu hari, seorang lelaki tengah memecah tanah dengan cangkul. Seorang lelaki lain yang bodoh datang kepadanya dan berteriak, “Hei, mengapa kau merusak tanah itu?”"Tolol!” jawab si pencangkul, “Pergilah kau dan jangan ganggu aku! Mengertilah perbedaan antara penghancuran dan pertumbuhan. Bagaimana mungkin tanah ini berubah menjadi kebun mawar atau ladang gandum, bila sebelumnya tak kau pecah-pecah dan kau rusak? Bagaimana mungkin tanah ini menjadi petamanan yang penuh dengan dedaunan dan buah-buahan, bila sebelumnya tak kau hancurkan dan kau remukkan?

“Sebelum kau pecahkan bisulmu dengan pisau, bagaimana mungkin penyakitmu itu dapat sembuh? Sebelum tabib memulihkan kesehatanmu dengan obatnya yang pahit, bagaimana mungkin penyakitmu dapat hilang?

“Ketika seorang penjahit menggunting sepotong kain, sedikit demi sedikit, apakah ada orang yang mendatanginya dan berteriak: Mengapa kau rusak satin indah ini? Apa gunanya serpihan-serpihan kain satin? Ketika para tukang datang untuk memperbaiki bangunan tua, bukankah mereka memulai pekerjaan mereka dengan menghancurkan bangunan itu terlebih dahulu?

“Lihatlah para tukang kayu, pandai besi, atau tukang daging. Kau akan temukan bahwa penghancuran adalah awal dari pembaharuan. Penderitaan adalah awal dari pencerahan. Bila kau tak membiarkan biji-biji gandum itu untuk digiling, dari mana dapat kau peroleh roti untuk makananmu?”

Mengatasi Konflik Ketidakjujuran Pasangan

Posted in Duniawi tagged , , , at 8:19 pm by revuesuper

Alkisah seorang pria bernama Roni berencana pergi ke suatu tempat di daerah Gatot Subroto Jakarta. Dia telah berpakaian rapi, simpel, casual, dan wangi bunga Kasturi di tubuhnya sangat harum merebak ke seluruh ruangan. Dua jam lagi acara pertemuan Pesta Teh Bareng Klub Teater akan dimulai. Roni pun bergegas menyisir rapi rambut gelombangnya kemudian ia pakai topi berwarna hitam yang dibelinya beberapa bulan yang lalu. It’s time to act…he said.

Pesta Teh Bareng Klub Teater akan dihadiri oleh salah satu teman Roni bernama Dina. Mereka sudah saling kenal sejak lima bulan yang lalu dan hubungan mereka kian akrab seiring dengan berjalannya waktu. Apalagi jarak rumah mereka memang berdekatan. Rencana hang out Roni di Klub Teater ini tidak diketahui oleh kekasih Roni. How come? and why?

Pertanyaan di atas sangat familiar bukan?

Sekarang mari kita lihat sisi sebaliknya. Roni dan Sinta sedang makan malam bersama di sebuah warung Pecel Lele di daerah Dipati Ukur-Bandung. Sambil menyantap Nasi+Pecel Lele, Roni bercerita panjang lebar tentang pengalamannya merakit pesawat mini bersama teman-teman kampusnya. Sementara itu Sinta sedang asik ber-sms ria dengan teman dekatnya yang bernama Rianti. “Kamu cerita aja, aku pasti mendengarkan kok…tapi sambil balas sms ya…” begitu ujar Sinta sebelum Roni mulai bercerita. Lama-kelamaan Roni jengah melihat tingkah Sinta. Roni merasa tidak diperhatikan dan self esteem-nya pun menjadi turun dan ia pun mulai bertanya-tanya di dalam hati, dia lagi ngebales sms dari siapa sih? Sebenarnya dia menyimak cerita aku tadi gak sih? Jangan-jangan…?

Sounds familiar?

Ketidakjujuran selalu menjadi masalah dalam suatu hubungan sepasang kekasih. Sepasang kekasih yang sudah menjalin hubungan selama bertahun-tahun sekalipun bisa bubar hanya karena ketidakjujuran. Entah itu datang dari pihak perempuan ataupun dari pihak laki-laki. Semua orang pernah berbuat tidak jujur terhadap orang lain apalagi diri sendiri. Rasa bersalah pasti ada dan sebagai akibat dari ketidakjujuran itu, pihak yang dibohongi pun bisa kesal dibuatnya. Pertanyaan mengapa berdusta, mengapa begini dan mengapa begitu tampak tidak berguna jika dijadikan sebagai senjata pemusnah ketidakjujuran karena apa? Bukankah masing-masing dari kita menjunjung tinggi privasi dan rahasia?

Sekarang mari kita anggap bahwa menjaga privasi dan rahasia itu adalah benar dan semua alasan-alasan lain mengapa tidak jujur terhadap pasangan bisa diterima dengan akal. Namun yang menjadi permasalahan adalah, bagaimana mengatasi konflik yang ditimbulkan oleh ketidakjujuran dari kekasih yang sangat kita cintai sehidup semati? Sehingga kerak-kerak hati tidak semakin menebal hanya karena masalah ketidakjujuran dan supaya cinta-kasih terus berlanjut hingga akhir hayat yang memisahkan. How?

1. Belajar untuk positive thinking mulai dari detik ini. Positive thinking banyak memberikan manfaat seperti kesejukan jiwa, ketabahan hati, kerendahan hati, menimbulkan karakter bersahabat, dan menghindarkan permusuhan.

2. Belajar untuk ikhlas dalam melakukan segala sesuatu. Ikhlas dalam arti TIDAK MENGHARAPKAN BALASAN APAPUN karena jika kita mengharapkan imbalan yang setimpal maka perasaan curiga dan terancam akan bercokol terus selamanya dan bisa membuat kita uring-uringan setiap saat.

3. Hilangkan perasaan rendah diri dengan banyak-banyak berzikir. Jika wudhu bisa mensucikan badan, maka kotornya hati bisa disucikan dengan zikirullah

4. Bukan menginterogasi tetapi berdiskusi (seperti yang dilakukan polisi penginterogasi para kriminal saja.)

5. Tanyakan langsung kepada orang yang tidak jujur tentang kendala yang ia hadapi ketika ingin berkata jujur kemudian kumpulkan jawaban sebanyak mungkin dan jangan dianalisa, cukup didengarkan saja. Jika telah diketahui kendalanya apa, maka kita akan mendapatkan jawaban mengapa dia tidak mengatakan yang sebenarnya bukan?

6. Beritahu kepada pasangan anda yang sudah tidak jujur kepada anda bahwa anda bukanlah orang yang egois dan suka mengekang kesenangan orang lain.

7. Beritahu juga kepada pasangan anda bahwa segala sesuatunya bisa dikompromikan dengan anda karena anda bukanlah orang yang suka memaksakan kehendak

8. Selesaikan masalah hari itu juga

9. Berdiskusi tanpa ada nada tinggi

10. Toleransilah…

11. Maafkan kesalahannya dan jangan diingat-ingat lagi apalagi diungkit-ungkit.

12. Last but not least…sadarlah bahwa status pacar sebenarnya tidak menjamin apapun. Untuk itu, langsung menikah saja.

About Nirvana

Posted in Duniawi tagged , at 8:12 pm by revuesuper

Coba dengerin lagu Nirvana yang judulnya” Galloons of Rubbing Alcohol”.

Intro yang unik

Liriknya cuma conversation but lucu ajah

what a kickking drummer…

what a kickking band…

08.11.06

Kisah Pemuda Qazwin

Posted in Akhirat tagged , , , at 2:53 pm by revuesuper

Kisah Pemuda Qazwin

Sebuah suku di daerah Qazwin memiliki kebiasaan untuk menghias tubuh mereka dengan tato. Mereka menggambari kulit mereka dengan lukisan-lukisan yang gagah, seperti lukisan seorang pejwang yang memerangi kejahatan.

Seorang pemuda dari Qazwin pergi menemui tukang tato yang pekerjaannya ialah menggambar tato dengan jarum yang cukup tajam. Ia meminta tukang itu untuk mentato tubuhnya dengan gambar singa yang amat buas. “Bintangku adalah Leo, jadi singa adalah gambar yang amat pantas bagiku. Hiasilah punggungku yang kokoh ini dengan gambar singa.” Tukang itu menyanggupinya.

Pada saat tukang tato itu menancapkan ujung jarum untuk mulai menggambar, pemuda itu merasa amat kesakitan. Punggungnya diderita nyeri yang luar biasa. Ia menjerit, “Oh, jarum itu menyakitiku! Apa yang kau lakukan?” Tukang itu menjawab bahwa ia sedang menggambar singa seperti yang diperintahkan.

“Bagian apa dari tubuh singa yang sedang kau kerjakan?” tanya pemuda itu seraya menahan sakit.

“Aku baru saja akan menggambar ekor singa ini,” jawab tukang tato. Pemuda itu meminta agar singa itu tak usah memiliki ekor karena gambar ekor itu ternyata amat menyakiti punggungnya. Kalau ujung ekornya saja sudah sedemikian menyakitkan, apalagi jika keseluruhan ekor yang panjang itu digambar, “Biarkan singaku tak memiliki ekor. Hatiku tak tahan akan ujung jarum tatomu.”

Tukang itu pun mulai menggambar bagian lain dari singa di atas punggung pemuda itu. Kembali pemuda itu berteriak keras, “Apa yang kau tato sekarang?” Tukang itu menjawab bahwa ia sekarang tengah melukis bagian telinga.

“Biarkan singaku tak memiliki telinga. Demi Tuhan, tinggalkan saja bagian telinganya,” pinta pemuda itu. Tukang tato itu pun dengan patuh pindah mengerjakan bagian lain. Kembali, pemuda itu berteriak kesakitan, “Oh, tukang tato yang terhormat, kali ini apa yang sedang kau kerjakan?” Tukang itu pun menjelaskan bahwa ia tengah melukis bagian perut.

“Tinggalkan bagian perutnya. Aku tak memerlukan bagian perut dari singa itu untuk tatoku!” pemuda itu menjerit.

Akhirnya, tukang tato itu benar-benar kehilangan kesabaran. Ia berdiri kehairanan. Dengan kesal, ia membanting jarumnya dan memaki, “Kau ini gila! Tak ada di dunia ini seekor singa pun yang tak memiliki ekor, telinga, atau perut! Tuhan pun tak akan menciptakan singa semacam itu!”

Rumi menutup cerita ini dengan berkata, “Saudaraku, tahanlah rasa sakit dari ‘jarum’ itu. Pada akhirnya ia akan memberikanmu kenikmatan yang luar biasa. Matahari, Bulan, dan Angkasa akan menghormati ketahanan dirimu.” Bersabarlah menanggung derita dan segala kepedihanmu karena kebahagiaan di akhir hanya akan diperoleh melalui penderitaan sebelumnya.
Demikianlah, hikmah yang diberikan Rumi dari kisah tersebut di atas. Penulis jadi teringat pada waktu setahun yang lalu, seorang teman dekat sedang bersedih karena baru saja broke-up dengan kekasihnya, kesedihannya semakin bertambah ketika ia dipecat dari kerjaannya, manalagi skripsi tak kunjung selesai sementara masa study sudah berakhir (sudah 7 tahun mengabdi di universitas). Oh teman…

Entahlah apa yang dirasakannya dan apa yang dilakukan teman dekat itu hingga pada tahun ini skripsinya telah selesai, sudah wisuda, dan mempunyai kekasih baru yang sangat menyayangi diri teman dekat penulis.

Ada satu hal lagi nasehat yang disampaikan Rumi melalui bukunya, Fihi ma Fihi :

Palingkan wajahmu kepada Tuhan, karena makhluk ciptaan berada pada kondisi yang berbahaya. Bahkan dalam keadaanmu sekarang, kawanku, jangan lepas harapan, tetapi pandanglah Tuhan dan pasrahkan dirimu pada kehendakNya.

Quellen:

azri.free.org

Jalaludin Rumi.Fihi ma Fihi

Meyakini Keberadaan Allah

Posted in Akhirat tagged , , , at 4:38 am by revuesuper

TUGAS MURID JUNAIDI AL-BAGHDADI

Junaidi Al-Baghdadi, seorang tokoh sufi, mempunyai anak didik yang amat ia senangi. Santri-santri Junaid yang lain menjadi iri hati. Mereka tak dapat mengerti mengapa Syeikh memberi perhatian khusus kepada anak itu.

Suatu saat, Junaidi menyuruh semua santrinya untuk membeli ayam di pasar untuk kemudian menyembelihnya. Namun Junaidi memberi syarat bahwa mereka harus menyembelih ayam itu di tempat di mana tak ada yang dapat melihat mereka. Sebelum matahari terbenam, mereka harus dapat menyelesaikan tugas itu.

Satu demi satu santri kembali ke hadapan Junaidi, semua membawa ayam yang telah tersembelih. Akhirnya ketika matahari tenggelam, murid muda itu baru datang, dengan ayam yang masih hidup. Santri-santri yang lain menertawakannya dan mengatakan bahwa santri itu tak bisa melaksanakan perintah Syeikh yang begitu mudah.

Junaidi lalu meminta setiap santri untuk menceritakan bagaimana mereka melaksanakan tugasnya. Santri pertama berkata bahwa ia telah pergi membeli ayam, membawanya ke rumah, lalu mengunci pintu, menutup semua jendela, dan membunuh ayam itu. Santri kedua bercerita bahwa ia membawa pulang seekor ayam, mengunci rumah, menutup jendela, membawa ayam itu ke kamar mandi yang gelap, dan menyembelihnya di sana. Santri ketiga berkata bahwa ia pun membawa ayam itu ke kamar gelap tapi ia juga menutup matanya sendiri. Dengan itu, ia fikir, tak ada yang dapat melihat penyembelihan ayam itu. Santri yang lain pergi ke hutan yang lebat dan terpencil, lalu memotong ayamnya. Santri yang lain lagi mencari gua yang amat gelap dan membunuh ayam di sana.

Tibalah giliran santri muda yang tak berhasil memotong ayam. Ia menundukkan kepalanya, malu karena tak dapat menjalankan perintah guru, “Aku membawa ayam ke rumahku. Tapi di rumahku tak ada tempat di mana Dia tak melihatku. Aku pergi ke hutan lebat, tapi Dia masih bersamaku. Bahkan di tengah gua yang teramat gelap, Dia masih menemaniku. Aku tak bisa pergi ke tempat di mana tak ada yang melihatku.

Keyakinan akan murid Junaidi Al-Baghdadi dalam kisah di atas akan kehadiran Allah di setiap saat dan di manapun ia berada tidak terlepas dari ajaran guru mursyidnya sendiri yaitu Junaidi Al-Baghdadi, yang mana keyakinan tersebut semakin terasah ketika Sang Guru memberikan tugas menyembelih ayam tanpa dilihat oleh siapapun. Namun kelihatannya santri-santri yang lain belum sampai pada maqam tersebut kecuali santri yang disenangi Junaidi Al-Baghdadi.

Junaidi Al-Baghdadi atau Abu al-Qasim al-Khazzaz al-Nahawandi al-Baghdadi al-Shafi’i adalah Syekh dari kaum sufi, lahir dan bertumbuh di kota Baghdad. Ia adalah tokoh sufi yang terkenal dan banyak ditemui di tiap-tiap garis silsilah thariqat-thariqat yang muktabaroh, dua di antaranya adalah thariqat Naqsabandiyah dan thariqat Qodiriyah.

Quellen:

azri.free.fr

salaam.co.uk

sunnah.org

en.wikipedia.org/wiki/Naqshbandi

sufinews.com

KETIKA IBRAHIM MENANGIS

Posted in Akhirat tagged , , , at 3:09 am by revuesuper

Suatu hari, seorang tokoh sufi besar, Ibrahim bin Adham, mencoba untuk memasuki sebuah tempat pemandian umum. Penjaganya meminta wang untuk membayar karcis masuk. Ibrahim menggeleng dan mengaku bahwa ia tak punya wang untuk membeli karcis masuk.
Penjaga pemandian lalu berkata, “Jika engkau tidak punya wang, engkau tak boleh masuk.”
Ibrahim seketika menjerit dan tersungkur ke atas tanah. Dari mulutnya terdengar ratapan-ratapan kesedihan. Para pejalan yang lewat berhenti dan berusaha menghiburnya. Seseorang bahkan menawarinya wang agar ia dapat masuk ke tempat pemandian.

Ibrahim menjawab, “Aku menangis bukan karena ditolak masuk ke tempat pemandian ini. Ketika si penjaga meminta ongkos untuk membayar karcis masuk, aku langsung teringat pada sesuatu yang membuatku menangis. Jika aku tak diizinkan masuk ke pemandian dunia ini kecuali jika aku membayar tiket masuknya, harapan apa yang boleh kumiliki agar diizinkan memasuki surga? Apa yang akan terjadi padaku jika mereka menuntut: Amal salih apa yang telah kau bawa? Apa yang telah kau kerjakan yang cukup berharga untuk boleh dimasukkan ke surga? Sama ketika aku diusir dari pemandian karena tak mampu membayar, aku tentu tak akan diperbolehkan memasuki surga jika aku tak mempunyai amal salih apa pun. Itulah sebabnya aku menangis dan meratap.”

Dan orang-orang di sekitarnya yang mendengar ucapan itu langsung terjatuh dan menangis bersama Ibrahim.
source: Azri.free.fr

« Older entries