Ketika suatu malam yang dingin dan lembab menyisakan genangan-genangan air dan embun-embun di dedaunan, daun-daun yang menaungi tanah lembab; tanah di dalam pot tanaman atau di lahan garapan, seekor kucing berwarna hitam legam duduk termangu sambil memandang jauh ke ujung jalan. Ia terus memandang ujung jalan itu hingga akhirnya ia pun lelah.

Kucing itu terduduk lelah, menangkup kedua tangannya, melipat kedua kakinya, dengan mata yang lelah namun masih ingin terus memandangi ujung jalan itu. Ia tidak dapat berbuat apa-apa, sebab tidak satu manusia pun di zaman ini yang mengerti akan perkataannya. Kucing itu masih duduk di sana, di balik dedaunan basah berembun, di atas tanah lembab akibat hujan tadi sore.

Matanya sesekali terpejam, tak sanggup menahan kantuk dan tiupan angin malam yang dingin. Ingin rasanya ia merebahkan saja tubuhnya yang kekar itu ke atas tanah lembab nan empuk itu. Tapi ia tetap saja menahan kantuk itu, tidak ingin tertidur sebelum ia memakan sesuatu malam ini, entah dari mana asalnya. Kucing hitam itu hanya tahu bahwa dari ujung jalan itu pasti ada seseorang yang memberinya makanan meskipun tidak setiap hari. Matanya yang indah lagi-lagi terpejam hingga akhirnya ia benar-benar terbangun karena seekor anak kucing berkata padanya, menyapanya dari belakang punggungnya dengan suara yang lirih.

Anak kucing: Bang…wahai abang yang berbulu hitam…

Kucing hitam: Siapa kau? sungguh aku tidak mengenal siapa engkau, hei anak kecil.

Anak kucing: Tidak peduli siapa aku dan jangan pedulikan siapa diriku, sebab aku pun tidak tahu dari mana asal usulku. Sedari kecil, aku sudah terpisah dari ibu dan saudara-saudaraku yang lain. Aku ini anak sebatang kara…

Kucing hitam: Lantas, apa maumu?

Anak kucing: Sedari tadi Abang hanya duduk berdiam diri di sini, bahkan tidak mencari makan. Apakah Abang sudah makan?

Kucing hitam: Apa pedulimu? pergi sana! orang yang kutunggu-tunggu sedari tadi sudah datang membawakan makanan.

Si kucing hitam berlari menyambut kedatangan orang itu, orang yang sering memberi ia makan. Aroma tubuhnya dan suara langkah kakinya sangat dikenali oleh kucing hitam ini. Tapi, sungguh malang nasib si kucing. Orang itu tidak membawa makanan sisa malam ini, tidak membawa tulang belulang, bahkan hanya tangan kosong. Si kucing hitam berlari ke arahnya dan si anak kucing juga berlari mengejar kucing hitam.

Anak kucing: Bang…Bang…tunggu aku! Kau akan mendapatkan makanan? Aku mohon beri aku separuh saja, bahkan secuil. Aku mohon…

Kucing hitam berhenti di bawah kaki orang itu, menggelayut mesra pertanda meminta belas kasihan. Namun, orang itu hanya memberikan belaian kepada si kucing hitam. Anak kucing masih saja berceloteh, duduk tidak begitu jauh dari si kucing hitam.

Anak kucing: Siapakah orang itu Bang? Bila ia memberimu makanan, berilah aku separuh saja…aku mohon…aku mohon…

Kucing hitam berlalu melewati si anak kucing. Ia berjalan gontai, sambil sesekali menatap sendu ke wajah orang itu. Berharap sekali lagi bahwa orang itu sebenarnya membawa makanan untuknya namun sedang disembunyikan entah di mana. Orang itu, manusia itu, dengan perasaan iba sekali lagi hanya memberikan belaian saja dan ucapan “selamat malam”. Suara yang sangat dikenal oleh si kucing hitam.

Si anak kucing berjalan menyusul kucing hitam, ia mengikuti kemana kucing hitam itu pergi. Akhirnya tibalah mereka di suatu tempat kering, yang mampu melindungi tubuh mereka dari rintik-rintik hujan yang mulai turun lagi.

Anak kucing: Wahai Abang…mengapa kau bersedih? Apakah kau sangat kelaparan? Apakah seharian ini kau sudah makan? Kemarin siang aku menemukan segumpal daging ikan di dekat selokan itu. Aku memungutnya dan untungnya daging ikan itu masih terasa lezat di lidahku. Ayo kita ke sana…siapa tahu kita bisa menemukan makanan di sana.

Kucing hitam: Hhhh…siapa kau sebenarnya? Aku melihatmu berjalan dari arah selatan menuju ke sini beberapa waktu yang lalu, kelihatannya kau tersesat.

Anak kucing: Aku tidak tersesat. Aku hapal betul jalan ini. Aku sering melihatmu bermain-main di sekitar sini, aku bahkan sering berkhayal kapan aku bisa bermain-main denganmu. Tapi pada saat itu…aku masih sangat kecil. Aku takut kau akan menerkamku.

Si kucing hitam hanya diam saja, tidak sanggup menanggapi karena perut sudah keroncongan. Kemudian, si anak kucing berjalan menuju genangan air hujan di dekat mereka. Ia meminum air genangan tersebut. Air genangan yang berwarna coklat dan berpasir.

Anak kucing: Hmmm…nikmat rasanya. Abang, kau tidak haus?

Kucing hitam: Tidak, aku tidak haus. Lagipula, bila kau minum air genangan itu terlalu sering, kau bisa sakit.

Anak kucing: Aku sudah terbiasa. Aku harus meminum air apalagi? tidak ada manusia yang memberiku air minum bersih.

Kucing hitam: Terserah kau saja.

Anak kucing: Abang, aku lapar sekali. Kau tidak punya makanan sedikit pun?

Kucing hitam: Tidak, aku tidak punya. Satu hari ini, aku hanya memakan satu potong tulang ayam. Kenapa kau tidak meminta saja kepada manusia? kau pasti mampu memperlihatkan wajah memelasmu.

Anak kucing: Aku tidak begitu pandai mengambil hati manusia, aku bahkan takut kepada mereka. Bayangkan, tubuh mereka itu tinggi sekali seperti raksasa. Melihat kakinya saja aku takut.

Mereka berdua terdiam sejenak. Kemudian terdengar suara perut keroncongan dari dalam perut kedua kucing itu.

Anak kucing: Abang…aku tidak tahan lagi. Aku harus pergi mencari sesuatu untuk dimakan. Apakah kau akan ikut denganku?

Kucing hitam: Tidak, kau saja. Aku akan tidur di sini menunggumu hingga esok. Kau masih anak-anak, aku harap kau tidak tersesat selama di perjalanan.

Anak kucing: Kau baik sekali. Bila nanti aku mendapatkan makanan, maka makanan itu akan kumakan sendiri karena kau tidak ikut bersamaku. Apakah itu membuatmu sedih?

Kucing hitam: Kau makan saja makanan itu sepuasmu. Aku tidak akan sedih…sebab…suatu saat kau akan belajar bagaimana cara menahan lapar.

Si anak kucing berjalan mendekati si kucing hitam, ingin mencium hidungnya, keningnya, dan menghirup sekali lagi aroma tubuh si kucing hitam.

Anak kucing: AKu akan mengingat aroma tubuhmu. Terima kasih atas kebaikanmu…aku harus pergi sekarang…

Kucing hitam pun membalas kecupan anak kucing itu. Setelah itu, si anak kucing berjalan dengan gontai menuju ujung jalan. Perutnya yang keroncongan memperlambat gerak langkahnya. Hanya beberapa langkah, anak kucing itu duduk di tengah jalan. Ia tahu bahwa badannya tidak sanggup lagi menelusuri jalan tidak berujung. Tapi, ia harus mencari sesuatu untuk dimakan. Setidaknya, ia bisa menyambung nyawa hingga esok. Tak lama, anak kucing itu melangkah lagi sambil mengeong, meneriakkan suaranya yang kecil dan lirih, mengingatkan kepada manusia bahwa ia adalah seekor hewan yang sama-sama diciptakan untuk hidup berdampingan di atas bumi ini. Ia menoleh ke belakang ke arah kucing hitam.

Anak kucing: Kau pasti akan baik-baik saja hingga esok. Aku berdoa, semoga kau mendapatkan rezeki yang berlimpah esok hari dan selamanya. Sampai jumpa…

Kucing hitam: Hati-hati!

Rintik-rintik hujan sedikit demi sedikit membasahi tubuh anak kucing itu. Ia pun berlindung di bawah bunga talas. Perutnya keronconga, ia tahu itu.
Anak kucing: Tapi aku belum sanggup menangkap seekor tikus. Lagipula, kucing itu tidak memakan tikus, mereka hanya senang menangkapnya saja. Hhhh…aku tahu, malam ini atau esok…atau lusa…atau entah beberapa hari lagi…aku masih bisa bertemu dengan kucing hitam itu. Semoga saja, rezeki datang kepadaku juga.

Hari Minggu (17.05.09) aku pergi berbelanja ke SUperindo, super market ternama di Indonesia khususnya Bandung. Aku hanya membeli beberapa item seperti paprika bubuk, tomat, dan bawang bombay karena malam ini aku berencana untuk memasak sesuatu yang berbahan dasar Penne.
Setelah mengitari lorong demi lorong, mencari secara detil produk-produk mereka yang akan dibeli, menimbang-nimbang merek apa yang akan dipilih, akhirnya aku sampai kepada satu lorong dimana rak etalase untuk bahan-bahan saus dan kecup dipajang. Di rak etalase itu pula aku menemukan tas belanja produk Superindo terpajang dan dijual dengan harga Rp. 10.000,- Tas itu cukup kuat dan bervolume besar. Cukup untuk memuat bahan-bahan makanan selama satu minggu. Aku bahkan melihat beberapa konsumen membeli tas belanja tersebut dan menggunakannya sebagai pengganti kantong plastik. Aku salut, akhirnya ada juga super market yang mendukung gerakan anti sampah plastik.
Aku berharap pada diriku sendiri dan konsumen lainnya agar setelah membeli tas belanja tersebut, kita dapat menggunakannya secara kontinu dan belajar agar terbiasa tidak menggunakan kantong plastik lagi.
Aku juga berharap agar Superindo selalu mendukung gerakan anti sampah plastik dan suatu saat agar memproduksi tas belanja yang berbahan dasar kertas.

Setiap orang tentu memiliki tujuan dalam hidupnya. Karena itulah setiap tahun baru kita pun membuat daftar keinginan atau sesuatu yang ingin diraih di tahun mendatang, tetapi satu dua bulan berikutnya kita sering lupa pada tujuan-tujuan yang sudah ditulis atau diniatkan dalam hati.

Lalu, bagaimana agar kita sukses mencapai resolusi yang diinginkan? Anda bisa mencoba menjalankan metode SMART yang direkomendasikan oleh ahli manajemen Peter Drucker.

S, berarti spesifik. Buatlah resolusi Anda secara detail agar lebih fokus.

M, untuk measurable (terukur). Setelah Anda membuat tujuan yang spesifik, pastikan Anda bisa mengukurnya. Misalnya, berapa kali Anda menghubungi keluarga atau teman lama, dalam rangka mendekatkan diri dengan mereka.

A, untuk achievable (bisa dicapai).

R, untuk realistik. Sebelum membuat tujuan, lihat juga kemampuan diri.

T, time atau waktu. Buatlah deadline dalam jangka pendek. Jangan biarkan tujuan Anda tidak memiliki tenggat atau Anda hanya akan mengulangi resolusi tahun lalu yang belum juga tercapai.

Sumber: Kompas, Selasa, 30 Desember 2008

Pelayanan PT POS INDONESIA

January 16, 2009

Berawal dari pengiriman pos dan giro, Pos Indonesia telah menambahkan bentuk jasa pengiriman berupa logistik, keuangan, dan kiriman luar negeri.

Pos Indonesia merupakan perusahaan jasa pengiriman milik pemerintah (menjadi Persero pada tahun 1995) yang didirikan pada tahun 1746 di Batavia oleh Gubernur Jendral GW Baron. Kemudian pada tahun 1906, berubah nama menjadi Posts Telegraafend Telefoon Diensts.

Sekarang Pos Indonesia telah mengalami banyak perubahan di sana-sini,contoh real-nya logo perusahaan, perbaikan organisasi, pengembangan perusahaan yang berorientasi pada customer service menurut saya. Coba kunjungi website Pos Indonesia, website yang lumayan memberikan informasi kepada customer Pos Indonesia. Di website itu disediakan fasilitas untuk mengetahui apakah paket yang kita kirimkan telah diterima oleh si penerima dengan alamat tujuan yang sesuai. Beberapa contact person yang telah disediakan oleh Pos Indonesia juga banyak memberikan kepada customer. Saya pernah menanyakan kepada contact person tersebut melalui e-mail tentang biaya pengiriman serta syarat-syarat barang yang boleh dikirimkan ke luar negeri dan mereka segera membalas e-mail tersebut dengan memberikan informasi yang berhubungan dengan pertanyaan saya meskipun terdapat satu informasi yang tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan. Informasi itu berupa barang pecah-belah yang akan dikirimkan ke luar negeri. Di satu sisi, contact person yang ditunjuk oleh Pos Indonesia menyampaikan informasi bahwa barang pecah-belah (pigura lukisan berbingkai kayu dan kaca sebagai cover depan), di sisi lain petugas di Pos Indonesia cabang Alun-alun Bandung menyampaikan informasi bahwa barang pecah-belah tidak bisa dikirimkan ke luar negeri. Informasi yang tidak sinkron tersebut menimbulkan keambiguan bagi saya-bagi customer lainnya yang akan mengirimkan barang yang mengandung unsur kaca ke luar negeri, tentu saja. Namun, secara keseluruhan saya tetap salut terhadap pelayanan yang diberikan oleh Pos Indonesia.

Sewaktu saya ngotot untuk mengirimkan pigura lukisan yang mengandung unsur kaca tersebut ke luar negeri berdasarkan informasi yang saya peroleh dari contact person Pos Indonesia melalui e-mail, petugas Pos Indonesia cabang Alun-alun Bandung justru mempertahankan komitmen peraturan Pos Indonesia yang telah dibuat, peraturan bahwa barang yang mengandung unsur kaca—pecah boleh tidak bisa dikirimkan ke luar negeri. Mempertahankan peraturan yang telah dibuat tersebut secara komunikatif dan informatif. Pesan informatif yang disarankan oleh petugas Pos Indonesia tersebut yang sebenarnya baik dan bermanfaat untuk saya meskipun saya tidak bisa mengirimkan pigura lukisan tersebut. Salut! sebab Pos Indonesia masih mempertahankan dan berdisiplin terhadap peraturan pengiriman barang yang telah mereka buat. Tentu tidak seperti peraturan lalu lintas yang mudah dilanggar oleh para pengguna jalan,tentu tidak akan seperti itu.

Kali ke dua saya ke sana untuk mengirimkan paket ke luar kota, Pos Indonesia menawarkan jasa packaging yang aman untuk pengiriman paket pos ke luar kota. Jasa packaging tersebut mengingatkan saya kepada Deutsche Post milik pemerintah Jerman yang menyediakan produk packaging barang mulai dari ukuran kecil hingga ukuran besar, mulai dari volume kecil hingga volume besar yang telah dilabeli harga dan ready to use. Bisa saja, Pos Indonesia mengkomersialkan produk-produk pendukung packaging selain perangko dan amplop dengan berbagai ukuran seperti yang dilakukan oleh Deutsche Post. Misalnya dengan menjual kardus berlogokan Pos Indonesia untuk pengiriman paket pos berupa CD atau DVD, kardus berukuran lebih besar lagi, atau apa saja.

Pos Indonesia memang mengalami banyak perubahan, saya bisa lihat itu dan sebab itu lah saya hingga saat ini masih menggunakan jasa Pos Indonesia. Yang lebih penting lagi, saya bisa mengetahui status paket pos yang telah saya kirimkan—status terkirim atau belum terkirim melalui website resmi Pos Indonesia.

Pening I

September 17, 2008

Udah tiga minggu berlalu setelah seminar usulan penelitian dilaksanakan. Boro-boro melanjutkan penulisan skripsi hingga ke bab Kesimpulan dan Saran, revisi usulan penelitian pun belum diselesaikan. Gimana nih? aku malah berleha-leha; main games (Dinner Dash edisi Hometown emang bikin penasaran), nonton film kungfu, bengong gak menentu, tidur-tiduran ama Uback (Ucing Blacky.red), main-main bola kertas bareng Uback, und so weiter lah pokoknya.

Uback : Emangnya…skripsi elo susah banget ya? sampe-sampe revisi usulan penelitian pun belum selese juga.

AKu    : YA gak susah sih, cuma aku aja yang bego. Otakku rada-rada kurang 1/2 kg juga nih.Uback siiih ngajak main mlulu.

“Emangnya kamu tidak punya masalah apa?sampai mencampuri urusan orang lain.”

Saya tertarik dengan kalimat di atas dan kalimat itu menjadi landasan atas pertanyaan saya,bentuk kepedulian seperti apakah yang kita berikan kepada orang lain sedangkan kita sendiri mempunyai segudang masalah?

Menurut opini saya,jawaban atas semua itu adalah:

Saya punya dua mata untuk melihat apa yang telah terjadi pada dirinya

Saya punya dua telinga untuk mendengarkan keluh-kesah serta suka-duka dirinya

Saya punya dua tangan untuk menolongnya

Saya punya bahu untuk dijadikannya sandaran ketika sedih dan pilu

Saya punya dua kaki untuk mengunjunginya

Saya punya mulut dan hati untuk memberinya salam dan doa setiap saat

Saya punya gigi untuk menunjukkan bahwa saya bahagia atas kabar gembira yang disampaikannya

Saya punya otak dan pikiran untuk membantunya mengingat sesuatu

Saya punya waktu untuk dirinya,minimal satu menit dan meskipun hanya sekedar mendengarkan

Saya dianugrahi kasih sayang untuk saya,binatang,tumbuhan,benda mati,dan manusia

Saya hanya ingin menjadi manusia yang berguna

Saya hanya ingin menggunakan rasa kasih sayang itu

Saya hanya ingin menjadi temannya

Saya tahu saya hidup tidak sendiri di sini,di bumi ini

Saya butuh dia meskipun dia tidak butuh saya

Dan saya sedang berinteraksi dengan manusia,bukan binatang bukan tumbuhan bukan pula benda mati

Ini adalah bentuk kepedulian saya

burung hoopoe dan burung hantu

September 17, 2008

Karya: Syaikh Al-Isyraq, Syihabuddin Yahya As-Suhrawardi

Suatu kali ketika sedang terbang, burung hoopoe tiba di lingkungan beberapa burung hantu, lalu mampir di sarang mereka. Nah, sebagaimana yang dikenal baik oleh masyarakat Arab, burung hoopoe termasyhur karena ketajaman matanya, sementara burung-burung hantu itu pada siang hari buta. Burung hoopoe melewatkan malam itu bersama burung-burung hantu di dalam sarang mereka, dan mereka menanyainya tentang segala macam hal. Pada waktu fajar, ketika burung hoopoe berkemas dan siap untuk pergi, burung-burung hantu itu berkata, ‘Kawanku yang malang! Sungguh aneh, apa yang akan kamu lakukan ini? Bisakah kita bepergian pada siang hari?’

‘Ini mengherankan,’ kata si hoopoe, ‘Semua pekerjaan berlangsung pada siang hari.’

‘Apakah kamu gila?’ burung-burung hantu itu bertanya. ‘Pada siang hari, dengan ketidakjelasan yang disebarkan matahari atas kegelapan malam, bagaimana kita bisa melihat?’

‘Justru sebaliknya,’ kata si hoopoe, ‘Semua cahaya di dunia ini tergantung pada cahaya matahari, dan darinyalah segala sesuatu yang bersinar itu mendapatkan cahayanya. Sesungguhnya ia dinamakan “mata dari hari,” sebab ia merupakan sumber cahaya.’

Tetapi burung-burung hantu itu mengira dapat mengalahkan logika si hoopoe dengan menanyakan mengapa tak seorang pun dapat melihat pada siang hari.

‘Janganlah beranggapan bahwa lewat analogi dengan diri kalian sendiri setiap orang itu seperti kalian. Semua yang lain dapat melihat pada siang hari. Lihatlah aku. Aku dapat melihat, aku berada di dunia yang dapat dilihat, dapat diamati. Ketidakjelasan itu telah hilang, dan aku dapat mengenali permukaan yang cemerlang dengan jalan menyingkapkannya tanpa gangguan keragu-raguan.’

Ketika burung-burung hantu itu mendengar ini, mereka menjadi ribut menjerit-jerit dan, sambil bertengkar satu sama lainnya, mereka berkata, ‘Burung ini berbicara tentang kemampuan melihat pada siang hari, ketika kita terserang kebutaan.’ Dengan segera mereka menyerang si hoopoe dan melukainya dengan paruh dan cakar mereka. Mereka mengutuknya dengan memanggilnya ’si melek-siang-hari;’ sebab kebutaan pada siang hari merupakan kewajaran di kalangan mereka. ‘Jika kamu tidak menarik kembali perkataanmu,’ mereka berkata,‘kamu akan dibunuh!’

‘Jika aku tidak membuat diriku buta,’ pikir si hoopoe, ‘mereka akan membunuhku. Karena mereka merasakan kesakitan terutama pada mata mereka, kebutaan dan kematian akan terjadi secara serentak.’ Dan kemudian, diilhami oleh pepatah, ‘Berbicaralah dengan orang-orang sesuai dengan tingkat kecerdasan mereka,’ dia menutup matanya dan berkata, ‘Lihat! Aku menjadi buta seperti kalian.’

Melihat memang demikianlah halnya, mereka berhenti memukul dan melukai si burung hoopoe, yang menyadari bahwa mengungkap rahasia Ilahi di kalangan orang-orang yang tidak percaya sama saja dengan menyebarkan rahasia kekafiran mereka. Dan karenanya, sampai tiba waktu perpisahan, secara susah payah dia bertahan dengan berpura-pura buta dan berkata:

Berkali-kali aku mengatakan bahwa aku akan menyingkapkan semua rahasia di dunia yang fana ini.

Tetapi, karena takut akan pedang dan adanya hasrat untuk menyelamatkan diriku, [aku telah mengunci] bibirku dengan seribu paku.

Dia mengeluh dalam-dalam dan berkata, ‘Dalam diriku ada banyak pengetahuan; jika aku melepaskannya, aku akan terbunuh.’

Jika selubung itu diangkat, aku tidak akan menjadi lebih yakin (catatan: perkataan ini diyakini berasal dari ‘Ali ibn Abi Thalib).

Agar mereka menyembah Allah yang mengungkapkan segala yang terpendam di langit dan di bumi serta mengetahui apa-apa yang disembunyikan dan dinyatakan. (QS 27:25)

Jelaslah, tidak sesuatu pun yang tidak dari Kami perbendaharaannya. Dan Kami tidak mengaruniakan semua kebutuhan itu, kecuali dengan kadar yang serba tertentu. (QS 15:21 )

source: kisah.united.net.

<!–[if gte mso 9]> <![endif]–>Teorinya, pasar monopoli, yaitu pasar yang hanya didominasi oleh satu perusahaan produksi barang/jasa, mempunyai kesempatan besar untuk menguasai pasar. Mereka berhak mengatur harga penjualan barang/jasa meskipun terdapat ceiling price dan floor price yang ditentukan oleh kelompok tertentu atau biasanya pemerintah. Contohnya, perusahaan yang bergerak di bidang produksi migas dan sumber daya alam lain; Pertamina, gas negara, dan lain-lain. Ada juga pasar monopoli yang didominasi oleh perusahaan yang bergerak di bidang produksi sektor riil dan non-migas. Toko kelontong, toko retail, toko grocery, bukan termasuk ke dalam pasar monopoli, sebab konsumen bebas memilih produk barang/jasa yang bervariasi jumlah, model, harga, dan kualitasnya. Konsumen bebas memilih toko-toko yang menjual jenis produk yang sama tapi berbeda dalam hal yang tadi itu; harga, model, kualitas, dan tawaran menarik lainnya. Beda halnya dengan pasar monopoli bila dipandang dari sudut konsumen. Konsumen; ibu-ibu yang belanja ke pasar tradisional ataupun pasar modern seperti Hypermart, Yogya Department Store kalau di Bandung, Carrefour, Makro, Alfamart, Indomart, Yohan supermarket kalau di Medan, Matahari Department Store, contoh lain bapak-bapak, mahasiswa-mahasiwa, adik-adik yang berbelanja, shopping, atau sekedar cuci mata saja. Restoran bukan termasuk ke dalam kategori pasar monopoli, melainkan oligopoli. Oleh karena itu, para karyawan, pelayan, sales promotion boy/girl, penjaga toko kelontong atau grosir, pelayan di restoran, harus mampu memberikan kepercayaan, iming-iming, dan kemauan pada calon konsumen untuk membeli barang/jasa yang mereka tawarkan kepada konsumen saat interaksi terjadi di pasar oligopoli. Kalau pasar monopoli tidak perlu hal-hal seperti itu. Tanpa diberi iming-iming, kepercayaan, dan keyakinan untuk membeli barang/jasa pun si konsumen akan membeli produk yang mereka tawarkan karena pasar monopoli. Hanya mereka yang menjual produk tersebut, konsumen tidak memiliki pilihan lain kecuali perusahaan monopoli tersebut.

<!–[if gte mso 9]> Normal 0 false false false MicrosoftInternetExplorer4 <![endif]–><!–[if gte mso 9]> <![endif]–>
Tapi saya justru melihat keanehan di tanah air kita ini. Paradigma bahwa produsen atau penjual barang/jasa adalah raja sepertinya sudah mendarah daging di Indonesia, paradigma yang terdapat dalam ruang lingkup pasar persaingan tidak sempurna, oligopoli. Paradigma tersebut sebaiknya dirubah sebab kemajuan perkembangan suatu pasar oligopoli salah satunya ditentukan oleh besar-kecilnya pangsa pasar, kepercayaan konsumen, keyakinan konsumen, kemauan konsumen untuk membeli produk yang terdapat dalam pasar oligopoli tersebut. Singkatnya, konsumen harus dilayani dengan baik sebab itu adalah pasar oligopoli, konsumen memiliki banyak pilihan. Apa para penjual barang/jasa di pasar oligopoli tidak mau memiliki pangsa pasar yang besar dan pelanggan yang banyak? Misalnya saja seperti yang terjadi pada pasar persaingan sempurna. Tidak mau? Tentu saja mau sebab konsumen memiliki banyak pilihan untuk memilih produk yang beraneka ragam perbedaannya meskipun jenisnya sama. Konsumen memiliki banyak pilihan dan kesempatan untuk memilih produk yang terbaik, yang berkenan di hati konsumen. Jika tidak berkenan, maka konsumen berhak meninggalkan, berhak memilih yang lain. Free entry and free exit, istilahnya. Hal tersebut seharusnya diketahui oleh pasar, konsumen di pasar oligopoli. Pada dasarnya, para penjual barang/jasa di pasar oligopoli mengetahui dan menyadari betul bahwa konsumen harus dilayani dengan baik. Beberapa dari mereka justru telah dan selalu melayani konsumen dengan baik sehingga mendapat kepercayaan yang besar dari konsumen. Tapi, seperti yang saya bilang di atas, paradigma masyarakat yang salah di pasar oligopoli tidak seharusnya ada, paradigma bahwa produsen atau penjual barang/jasa adalah di atas segalanya, raja.

Saya senang berbelanja bahan-bahan pokok di supermarket, ketika harga-harga bahan pokok sedang diskon. Saya juga senang berbelanja di pasar-pasar tradisional, tempat dimana posisi tawar menawar lebih tinggi. Sebagai konsumen, saya berhak untuk memilih, tawar-menawar, dan memutuskan untuk membeli atau tidak. Teman-teman pun mempunyai hak. Seorang konsumen juga sudah sepantasnya memilih untuk menjadi konsumen yang pintar memilih dan yang tidak pintar memilih. Memilih apa saja yang termasuk ruang lingkup jual-beli, seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, free entry and free exit.

<!–[if gte mso 9]> Normal 0 false false false MicrosoftInternetExplorer4 <![endif]–><!–[if gte mso 9]> <![endif]–>Dalam hal memilih penjual barang/jasa pun banyak faktor-faktor yang harus diperhatikan oleh pembeli, konsumen. Saya tidak akan mengetengahkan faktor-faktor itu di sini sebab teman-teman bisa mencarinya sendiri dalam buku-buku ilmu Ekonomi. Yang ingin saya tekankan salah satu faktor pemilihannya adalah pelayanan, yang merupakan salah satu bentuk penghargaan hubungan antara penjual dan pembeli, produsen dan konsumen, baik yang diperjualkan adalah barang atau jasa. Ini penting supaya interaksi dan dinamisasi pasar oligopoli tidak terlalu ekstrim, supaya ada batas-batasnya apalagi bila disangkut-pautkan dengan sosial budaya dan sosial ekonomi masyarakat. Kalau pasar oligopoli yang banyak ditemukan saat ini bukan termasuk pasar persaingan sempurna melainkan pasar persaingan tidak sempurna. Pasar persaingan sempurna susah ditemukan meskipun ada. Kita bermain di pasar oligopoli saja. Tadi saya mengatakan bahwa pelayanan itu penting untuk diperhatikan oleh konsumen, pembeli produk barang/jasa. Dalam blog yang saya tulis sebelumnya, saya pernah singgung tentang mental korban penjajahan yang masih melekat sedikit, tidak banyak di dalam diri rakyat Indonesia. Pelayanan yang diberikan sudah sebarang tentu berhubungan dengan arti penting kemerdekaan bagi rakyat Indonesia, yaitu merdeka secara jasmani dan rohani. Dalam blog saya sebelumnya yang berjudul Agresivitas Tukang Ojeg juga sudah disinggung tentang sikap penjajahan dalam negeri yang disebabkan oleh kurang merdeka rohani sebagian rakyat-rakyat Indonesia, cir-cirinya merasa terintimidasi berlebihan, sikap inferior, takut mengkritik yang salah, takut memberi solusi, tidak berani mempertahankan mana yang benar dan mana yang salah, pendeknya kurang perjuangan dalam hal-hal yang berhubungan dengan kemerdekaan secara rohani. Contoh lain dari sikap penjajahan dalam negeri ya seperti yang saya jelaskan saat ini, penjajahnya adalah produsen atau penjual produk barang/jasa yang mengintimidasi posisi konsumen atau pembeli dengan cara membangun paradigma yang salah dalam masyarakat tentang posisi penjual dan pembeli dalam pasar oligopoli. Korban penjajahannya siapa? Ya kita-kita, rakyat kecil, mahasiswa/i, proletar, non-proletar, marhaen kata Bung Karno, semuanya yang merasa rohaninya, jiwanya belum merdeka.

Seorang pelayan di hotel bersikap tidak ramah dan semena-mena terhadap pengunjung atau tamu hotel, meskipun si tamu bukan tamu istimewa dan bukan pula seorang pejabat tinggi, apa pantas? Itulah mental korban penjajahan, seperti yang jelaskan dalam blog saya terdahulu, dikatakan masih memiliki mental korban penjajahan bila tidak berani menegur atau mengkritik sikap yang salah.

Seorang pelayan di toko yang menjual bahan kebutuhan sehari-hari, toko kelontong, atau grosir dan supermarket dan kasir juga terkadang perlu diperhatikan, perlu diamati sikapnya terhadap konsumen sebab beberapa di antara pelayan-pelayan toko tersebut sering bersikap semena-mena terhadap konsumen yang berpakaian seadanya, terhadap konsumen yang menjunjung tinggi kesederhanaan dalam berpenampilan. Bersikap layas, bahasa Jawa-nya. Seperti conglomeraat VOC yang bersikap layas terhadap kaum petani, kaum buruh di Indonesia. Sikap seorang penjajah, itulah dia. Meskipun penjajahan kecil dan sepele ini, menurut saya, bisa diselesaikan secara kekeluargaan dan menuntut kesabaran yang tinggi dari konsumen. Mohon jangan jadi orang yang munafik.

Di satu sisi, masyarakat Indonesia menentang imperialisme, kapitalisme, penjajahan, akan tetapi sikap penjajahan non-fisik yang sepele ini saja tidak mampu dicermati dan di perbaiki apalagi ditentang.

Saya orang Indonesia, orang biasa-biasa saja yang menginginkan kestabilan interaksi dan dinamisasi antar sesama rakyat Indonesia. Kemerdekaan telah digapai, namun ada beberapa hal yang masih dan harus terus diperjuangkan. Hal-hal kecil pun masih perlu diperjuangkan, bukan arti perjuangan tumpah-darah yang saya maksud.

Lihatlah dan cermati sila ke dua Pancasila, berprikemanusiaan dan beradab. Sikap semena-mena, kasar, tidak ramah dan layas terhadap konsumen jelas bukan sikap berprikemanusiaan dan beradab. Apa sebab?

<!–[if gte mso 9]> Normal 0 false false false MicrosoftInternetExplorer4 <![endif]–><!–[if gte mso 9]> <![endif]–>Para pemilik usaha atau wirausahawan dan para konsumen sudah memahami betul posisi dan fungsi masing-masing di dunia bisnis, dunia jual-beli. Apalagi yang kurang? Bila kedua-duanya saling memahami posisi dan fungsinya masing-masing bukankah sangat membantu keharmonisan kehidupan di Indonesia? Bukankah sangat membantu untuk pencapaian kemerdekaan secara rohani milik rakyat Indonesia?

 

Agresivitas Tukang Ojeg

July 13, 2008

Harga BBM telah dinaikkan, mahasiswa/i dan rakyat dengan tingkat perekonomian menengah ke bawah pun berteriak minta diturunkan, menurunkan suatu kebijakan yang tidak mungkin diturunkan.

<!–[if gte mso 9]> Normal 0 false false false MicrosoftInternetExplorer4 <![endif]–><!–[if gte mso 9]> <![endif]–>Benar, kita berada di atas bumi Indonesia yang demokratis, yang seharusnya demokratis tapi tidak liberal. Oleh karenanya, semua rakyat Indonesia mengajukan aspirasinya, permintaannya kepada para elit politik yang telah dan berhak menentukan kebijakan kenaikan BBM. Kita telah lihat dan mendengar berita-berita di televisi, media informasi yang seharusnya tidak memicu konspirasi kepada masyarakat Indonesia yang kurang kritis terhadap narasi berita, melihat dan mendengar berita tentang demonstrasi penghapusan kebijakan BBM yang telah ditetapkan, yang memang dibenarkan dalam hukum. Dampak kenaikan harga BBM pun semakin memperburuk keadaan, keadaan seperti apa? Bagi siapa? Jawab saja pertanyaan tersebut dalam diri sendiri, mikir sendiri atau ramai-ramai, terserah. Yang jelas…dampak-dampak tersebut timbul bukan hanya disebabkan oleh kebijakan pemerintah tentang kenaikan harga BBM. Tentu saja bukan. Mengapa? Tidak usah jauh-jauh, nggak usah zwaarwichtig mikirnya, nggak usah jelimet nyari akar permasalahannya. Dua contoh penyebab saja, yaitu menurutku, pertama adalah mental korban penjajahan yang belum memudar dari dalam diri rakyat Indonesia. Mental korban penjajahan? Ya…itu menurutku. Menurut kamu, apa? Dan yang ke dua adalah sifat pemalas.

Akan saya jabarkan satu per satu, alasan pendapat yang saya lontarkan di atas. Rakyat Indonesia pernah dijajah selama berabad-abad, sampai beranak-cucu, sampai tujuh turunan ikut tertindas namun sekarang Indonesia sudah merdeka. Merdeka secara kebebasan berpolitik, politieke onafhankelijkheit menurut Bung Karno. Apa sudah merdeka secara jasmani dan rohani?

Sebelumnya saya ingin menyampaikan rasa bangga yang teramat dalam kepada bangsa Indonesia, saya bangga dengan keragaman Indonesia, saya cinta terhadap Indonesia, sampai mati, sampai mati, sampai mati. Saya ingin menyampaikan kepada semua rakyat Indonesia dengan berbagai sukunya bahwa saya bangga pada semua suku-suku dan adat di Indonesia. Terima kasih kepada rakyat Indonesia yang menerima saya sebagai bagian dari rakyat Indonesia.

Merdeka secara jasmani? mari kita renungkan. Merdeka secara rohani? Mari kita renungkan. Merdeka secara jasmani iya, namun belum semua. Contohnya kaum ibu, kaum perempuan Indonesia yang masih—beberapa diantaranya terbelenggu kasus kekerasan atau terintimidasi secara fisik dan psikis. Contoh lain adalah kaum bapak,kaum pria—beberapa diantaranya terbelenggu kasus kekerasan atau terintimidasi. Merdeka secara rohani belum cukup bukti sehingga bisa dikatakan rakyat Indonesia sudah merdeka rohaninya dari penjajahan, penjajahan yang tidak hanya akibat dari kolonialisme melainkan penjajahan dalam berbagai aspek, berbagai bentuk sikap penjajah. Apa contohnya? Izinkan saya untuk mengambil contoh sikap penjajahan yang dilakukan oleh rakyat Indonesia sendiri terhadap rakyatnya sendiri, rakyat Indonesia.

Saya tidak akan lari dari topik pembicaraan, hanya ingin memberi contoh dan uraian agar dimengerti maksud dan tujuannya. Sebelumnya, wahai rakyat Indonesia…saya ingin menyampaikan mohon maaf yang sebesar-besarnya dari lubuk hatiku. Maafkan atas ketidakberkenannya perasaanku terhadap bentuk atau sikap penjajahan oleh saudara-saudaraku sendiri. Maafkan bila nantinya setelah saya jabarkan, saudara-saudaraku juga tidak berkenan di dalam hati.

<!–[if gte mso 9]> Normal 0 false false false MicrosoftInternetExplorer4 <![endif]–><!–[if gte mso 9]> <![endif]–>Perhatikanlah tukang ojeg di kota Bandung-Jatinangor. Perhatikan dengan jelas fenomena di pangkalan Damri Jatinangor. Apa yang terjadi antara mahasiswa, tukang Ojeg, dan DAMRI? Singkat saja, mahasiswa/i  pengguna transportasi DAMRI tujuan Bandung-Jatinangor disambut oleh tukang ojeg tepat di depan pintu masuk-keluar bus DAMRI, langsung disambut oleh tukang ojeg, tukang ojeg langsung mengambil posisi strategis di dekat pintu masuk-keluar bus DAMRI sedetik setelah bus DAMRI sampai di pangkalan DAMRI Jatinangor. Sedetik, bahkan bus DAMRI belum lagi sempat berhenti dan parkir secara sempurna. Para pengguna jalan lain, mobil pribadi, bus-bus antar kota, motor, dan pejalan kaki pun terganggu karena agresivitas tukang ojeg dalam mencari penumpang tadi. Penumpang yang dituju ya mahasiswa – mahasiswi. Untung bagi para tukang ojeg, sebab mahasiswa-mahasiswi yang malas bangun pagi dan sedang dalam keadaan terburu-buru menuju kampus mau naik ojeg yang telah mengganggu keamanan dan kenyamanan pengguna jalan. Tidak untung bagi para pengguna jalan lain yang menghadapi kemacetan luar biasa akibat motor-motor tukang ojeg yang langsung menyabotase seluruh badan jalan sedetik setelah bus DAMRI sampai di pangkalan DAMRI Jatinangor, tidak untung bagi para pejalan kaki yang ingin menyebrang, tidak untung bagi para penumpang bus DAMRI yang ingin turun dari bus secara aman. Aman artinya tidak jatuh, tidak berdesak-desakan dengan penumpang lain, tidak terkena knalpot motor tukang ojeg, dan tidak terhalang oleh motor-motor tukang ojeg yang berhenti di sekitar area pintu masuk-keluar bus DAMRI. Tidak untung bagi mahasiswa dan pihak DAMRI yang kedua-duanya mempunyai hubungan mutualisme; mahasiswa bersedia membayar ongkos DAMRI AC (Rp.4500) sedikit lebih mahal daripada DAMRI ekonomi (non-AC) yaitu Rp.3500 dan pihak DAMRI bersedia mengantar mahasiswa ke dalam lingkungan kampus sehingga mahasiswa tidak perlu naik ojeg lagi.

<!–[if gte mso 9]> Normal 0 false false false MicrosoftInternetExplorer4 <![endif]–><!–[if gte mso 9]> <![endif]–>

Hanya dalam kurun waktu kurang lebih satu minggu DAMRI AC beroperasi hingga ke dalam lingkungan kampus, setelah itu supr-supir DAMRI AC tidak mau lagi beroperasi hingga ke dalam lingkungan kampus, cukup sampai pangkalan DAMRI saja mahasiswa diantarkan sebab para tukang ojeg protes dan ada indikasi ancaman-ancaman kepada supir DAMRI. Tentu saja tukang ojeg protes, lahan mata pencaharian mereka dikebiri, dipotong. Tentu saja supir DAMRI takut beroperasi, mereka kan bukan masyarakat lokal Jatinangor dan bukan konco-konconya tukang ojeg.

Hanya dalam kurun waktu kurang lebih satu minggu, mahasiswa/i yang lebih memilih DAMRI AC tidak dapat menikmati fasilitas yang diberikan oleh pihak DAMRI padahal ongkos bus DAMRI sesuai dengan fasilitas yang diberikan. Mahasiswa/i dipaksa naik ojeg, diatur sedemikian rupa kondisinya hingga mahasiswa/i terpaksa naik ojeg, begitu keluar dari bus pun mahasiswa/i dihadang oleh tukang ojeg. Seolah-olah tukang ojeg berusaha meyakinkan para penumpang bus DAMRI AC dan non-AC bahwa naik ojeg lebih baik dan lebih cepat. Mahasiswa/i tidak diberi kesempatan oleh tukang ojeg untuk turun dari bus dengan selamat dan aman, tidak diberi kesempatan untuk memilih sarana agar lekas sampai di kampus, dan mahasiswa/i tidak diberi pilihan untuk menentukan mana yang baik dan yang buruk, yang wajar dan tidak wajar, yang salah dan yang benar. Pun, tidak ada protes dari supir DAMRI AC, tidak ada complain dari mahasiswa/i yang telat dan sedang terburu-buru ke kampus (akibat kemalasannya bangun lebih awal dari waktu yang telah direncanakan), parahnya lagi tidak ada protes oleh para pengguna jalan lainnya;pengendara motor pribadi, pengendara mobil pribadi, bus-bus umum, dan pejalan kaki. Mengapa?

Takut memprotes tukang ojeg yang semena-mena memakai jalan? Takut mendemo tukang ojeg yang beroperasi di pangkalan DAMRI dan tidak mematuhi peraturan lalu lintas? Takut menegur tukang ojeg hanya karena mereka punya back-up preman setempat dan hanya karena kita tidak punya back-up siapa pun yang lebih tinggi kuasanya? Apakah takut menegur tukang ojeg hanya karena rasa simpati terhadap mereka, mereka yang bersikap semena-mena mengendarai motor tanpa mematuhi peraturan lalu lintas, simpati kepada mereka hanya karena embel-embel “mereka butuh uang”???

Teman mahasiswa/i Jatinangor takut memilih tukang ojeg yang adem ayem menunggu penumpang di tempat yang aman? Padahal bila diperhatikan lebih teliti, cukup banyak tukang ojeg yang sedang menunggu penumpang di tempat yang lebih aman; di pangkalan ojeg misalnya, di depan Alfamart, di dekat trotoar, itu kan lebih aman daripada tukang ojeg yang menyabotase pintu keluar-masuk penumpang bus DAMRI. Takut berebut ojeg dengan mahasiswa lainnya? Takut telat? Takut gak keburu? Takut sama gak dikasih masuk oleh dosen?

Takut protes dan takut menegur atau tidak bisa melihat mana yang aman dan mana yang tidak? Mana yang baik dan mana yang tidak?

Sekali lagi saya tekankan, mohon maaf kepada rakyat Indonesia yang kurang berkenan terhadap opini ini. Sekali lagi saya tekankan bahwa saya bangga terhadap Indonesia.

Sikap penjajahan di dalam cerita yang saya jabarkan di atas adalah seperti ini, tukang ojeg adalah penjajah sementara supir DAMRI, pengendara mobil dan motor pribadi, pejalan kaki, pengendara bus-bus antar kota serta mahasiswa/i kampus Jatinangor adalah korban penjajahan. Apa sebab saya sebut sebagai sikap penjajahan? Silahkan cari arti/definisi dan penjelasannya secara rinci di literatur-literatur nasional dan internasional. Saya sudah cari itu, dibuka diskusi untuk ini. Benar, bentuk penjajahan ada dua yaitu fisik dan non-fisik, yang fisik mencederai sementara non-fisik terselubung dan sistematik hingga terdapat penindasan di dalamnya. Tinggal dikategorikan saja, tapi menurutku lebih cocok bila contoh yang saya jabarkan di atas, aksi tukang ojeg dan konco-konconya dikategorikan sebagai bentuk penjajahan non-fisik.

<!–[if gte mso 9]> Normal 0 false false false MicrosoftInternetExplorer4 <![endif]–><!–[if gte mso 9]> <![endif]–>

Saya ini seorang mahasiswi, salah satu rakyat Indonesia, terima kasih kepada tanah airku dan rakyat Indonesia yang menerima saya sebagai bagian dari kehidupanmu.

Lantas, mengapa rohani rakyat Indonesia belum merdeka? Apa hubungannya dengan dampak kenaikan harga BBM? Arti penjajahan telah dicari, telah dimengerti, maka telah mengerti pula efek penjajahan pada mentalitas korban penjajahan zaman kolonialisme Belanda. Saya sudah contohkan satu kasus sikap penjajah dalam negri sendiri, yang di atas tadi, tukang ojeg. Coba lihat mental kita yang terjajah oleh tukang ojeg, tidak ada yang berani menegur dan menuntut bukan? Bukan? Jadi apakah itu artinya? Itulah dia mental korban penjajahan, selalu merasa terintimidasi dan inferior berlebihan.

Oke, anggap saja yang merasa tersiksa dengan kebijakan pemerintah soal kenaikan harga BBM adalah mahasiswa/i dan rakyat kecil. Mahasiswa/i yang suka naik ojeg dan yang demen naik angkot, rakyat kecil yang juga kadang-kadang tanpa disadari menjadi penjajah bagi segelintir kaum tertentu, mahasiswa/i yang malas bangun pagi, malas berjalan kaki padahal jarak dari tempat tinggalnya ke kampus hanya beberapa puluh meter, kemudian rakyat kecil, pengguna transportasi umum, juga mahasiswa/i yang ogah berhenti dan naik angkutan umum dari dan ke halte bus/angkutan umum. Kita semua tersiksa dengan kenaikan harga BBM, saya tekankan sekali lagi, kita semua tersiksa tanpa terkecuali. Mulai dari yang banyak uangnya hingga yang paling sedikit uangnya, hartanya. Hanya saja yang banyak berdemo dan berkoar-koar adalah mahasiswa/i dan rakyat kecil. Sah-sah saja, saya pribadi setuju dengan itu semua, setuju dengan bentuk demokrasi dan reformasi yang diinginkan dan dijalankan oleh rakyat Indonesia, saya ulangi, saya setuju. Akan tetapi, cobalah untuk merenungi potensi sikap penjajahan dalam diri kita sendiri. Cobalah renungi, sifat inferior kita yang terlalu berlebihan, sifat merasa terintimidasi selalu yang terlalu sering dan berlebihan. Cobalah untuk perjuangkan hak-hak yang harus didapat tanpa melalaikan kewajiban. Tegur yang salah, hargai yang benar dan yang baik-baik. Jangan hanya berani menegur pemerintah saja padahal di antara kita banyak yang menyalah, menyeleneh, bahkan diri sendiri. Tunjukkan sikap berani menegur yang salah meskipun ia lebih tua, tunjukkan sikap berani membela yang benar dan mencari solusi kesalahan menuju kebenaran. Bela supir DAMRI AC, bela para pengguna jalan; pengendara motor dan mobil pribadi,pejalan kaki, supir-supir bus antar kota, mahasiswa/i yang terancam keamanan dirinya dalam hal berjalan kaki menuju kampus (sebab seseorang yang sedang pergi menuntut ilmu sama dengan berjihad). Bela tukang ojeg yang dijajah, dipalak, bahkan diintimidasi oleh preman setempat, bela polisi-polisi yang terintimidasi oleh preman setempat. Rakyat Indonesia harus berani membela yang benar dan menegur yang salah.

Maaf seribu maaf kepada kepolisian RI, maaf seribu maaf kepada mahasiswa/i front pembela rakyat kecil, dan semua elemen masyarakat yang saya maksud. Saya setuju dengan semua aksi pembelaan yang benar oleh teman-teman mahasiswa/i Indonesia, saya ulangi, saya setuju. Aksi protes kita selama ini, aksi demonstrasi kita selama ini sedikit-banyak dipengaruhi oleh sisa-sisa mental korban penjajahan yang kita miliki selama ini bukan? Bukan?

<!–[if gte mso 9]> Normal 0 false false false MicrosoftInternetExplorer4 <![endif]–><!–[if gte mso 9]> <![endif]–>

Adopsi teknologi telah diterapkan dan dipelajari bahkan beberapa diantara teknologi canggih yang telah diadopsi dan dipelajari tersebut telah dikuasai metode dan aplikasinya. Rakyat Indonesia adalah rakyat yang pintar, berasal dari gen-gen orang-orang berdedikasi, apalagi yang kurang?

Rakyat Indonesia semuanya adalah orang-orang yang pintar, punya inisiatif, semuanya tidak terkecuali. Baik itu dengan menempuh jalur pendidikan di sekolah-sekolah, perguruan tinggi, maupun yang tidak menempuh jalur pendidikan atau otodidak. Para petani di Subang, Garut, Ciamis, Sumedang, Solok, dari Sabang hingga Merauke semuanya pintar. Tidak ada cerita hanya orang-orang yang menempuh jalur pendidikan di sekolah-sekolah yang pintar dan berdedikasi, tidak ada cerita seperti itu. Apa sebab?

Oleh sebab itu, pintarnya rakyat Indonesia, pintarnya rakyat kecil, pintarnya para elit politik, pejabat, tukang sayur, tukang buah, kiyai, donatur, cendikiawan, semuanya merupakan modal dasar sesungguhnya untuh disadari dan dipahami sebagai kelebihan-kelebihan untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan di sana-sini. Manfaatkan kelebihan itu, manfaatkan yang ada, memadakan yang ada.

Saya hanya menjabarkan yang ini saja, bukan dampak-dampak kenaikan harga BBM dan bukan pula menjabarkan kesalahan dan kekurangan kebijakan pemerintah.

Saya yakin teman-teman yang sedang mengerjakan tugas akhir atau skripsi sebagai salah satu syarat kelulusan sarjana S1 pernah mengalami jantung berdegup kencang, keringat dingin, gugup, dan rasanya ingin cepat-cepat keluar dari ruangan dosen pembimbing. Hal tersebut dapat terjadi ketika kita berhadapan dengan dosen pembimbing yang killer minta ampun; susah ditelepon, jutek, suka sentimen, idealis dan perfeksionis. Tapi apakah hal itu menjadi kendala atau penghalang kelulusan? masa’ sih gara-gara dosen pembimbing yang killer, kita sebagai mahasiswa sejati menjadi lama lulus bahkan hampir didropout?

Tips-tips di bawah ini bisa berguna, baca saja…

1.Tetap tersenyum

2Terima kritikan dari dosen pembimbing sambil tetap tersenyum atau tertawa jika kamu anggap kritikan itu lucu.

3. Akui bahwa kamu adalah mahasiswa yang memang membutuhkan seorang pembimbing dalam menyelesaikan tugas akhir atau skripsi

4. Akui kebodohan dan kesalahan

5. Camkan dalam hati dan pikiran, Dosen juga manusia;stress dan frustrasi karena konflik rumah tangganya,manusia bisa marah,manusia bisa lupa, pokoknya semua tetek bengek yang ada hubungannya dengan manusia.

6.Pede aja! Ingatkan jika beliau lupa (kan dosen juga manusia…)

7. Jangan coba-coba membantah pendapat atau pernyataan dari dosen pembimbing yang killer

8. Jangan coba-coba memberi pendapat pribadi tanpa dibubuhi referensi ketika ditanya oleh dosen pembimbing killer. Kalau gak tau ya ngaku aja deh…

9.Tunjukkan kepada beliau bahwa kamu akan mencari semua pertanyaan dari beliau melalui berbagai sumber dan jangan takut untuk meminta jawaban dari beliau langsung.

10. Latihlah diri kita untuk menjadi orang yang rendah hati.

11. Terakhir nih…berdoa’a. Ya berdo’a…kan mahasiswa juga manusia