Kisah Pemuda Qazwin

August 11, 2006

Kisah Pemuda Qazwin

Sebuah suku di daerah Qazwin memiliki kebiasaan untuk menghias tubuh mereka dengan tato. Mereka menggambari kulit mereka dengan lukisan-lukisan yang gagah, seperti lukisan seorang pejwang yang memerangi kejahatan.

Seorang pemuda dari Qazwin pergi menemui tukang tato yang pekerjaannya ialah menggambar tato dengan jarum yang cukup tajam. Ia meminta tukang itu untuk mentato tubuhnya dengan gambar singa yang amat buas. “Bintangku adalah Leo, jadi singa adalah gambar yang amat pantas bagiku. Hiasilah punggungku yang kokoh ini dengan gambar singa.” Tukang itu menyanggupinya.

Pada saat tukang tato itu menancapkan ujung jarum untuk mulai menggambar, pemuda itu merasa amat kesakitan. Punggungnya diderita nyeri yang luar biasa. Ia menjerit, “Oh, jarum itu menyakitiku! Apa yang kau lakukan?” Tukang itu menjawab bahwa ia sedang menggambar singa seperti yang diperintahkan.

“Bagian apa dari tubuh singa yang sedang kau kerjakan?” tanya pemuda itu seraya menahan sakit.

“Aku baru saja akan menggambar ekor singa ini,” jawab tukang tato. Pemuda itu meminta agar singa itu tak usah memiliki ekor karena gambar ekor itu ternyata amat menyakiti punggungnya. Kalau ujung ekornya saja sudah sedemikian menyakitkan, apalagi jika keseluruhan ekor yang panjang itu digambar, “Biarkan singaku tak memiliki ekor. Hatiku tak tahan akan ujung jarum tatomu.”

Tukang itu pun mulai menggambar bagian lain dari singa di atas punggung pemuda itu. Kembali pemuda itu berteriak keras, “Apa yang kau tato sekarang?” Tukang itu menjawab bahwa ia sekarang tengah melukis bagian telinga.

“Biarkan singaku tak memiliki telinga. Demi Tuhan, tinggalkan saja bagian telinganya,” pinta pemuda itu. Tukang tato itu pun dengan patuh pindah mengerjakan bagian lain. Kembali, pemuda itu berteriak kesakitan, “Oh, tukang tato yang terhormat, kali ini apa yang sedang kau kerjakan?” Tukang itu pun menjelaskan bahwa ia tengah melukis bagian perut.

“Tinggalkan bagian perutnya. Aku tak memerlukan bagian perut dari singa itu untuk tatoku!” pemuda itu menjerit.

Akhirnya, tukang tato itu benar-benar kehilangan kesabaran. Ia berdiri kehairanan. Dengan kesal, ia membanting jarumnya dan memaki, “Kau ini gila! Tak ada di dunia ini seekor singa pun yang tak memiliki ekor, telinga, atau perut! Tuhan pun tak akan menciptakan singa semacam itu!”

Rumi menutup cerita ini dengan berkata, “Saudaraku, tahanlah rasa sakit dari ‘jarum’ itu. Pada akhirnya ia akan memberikanmu kenikmatan yang luar biasa. Matahari, Bulan, dan Angkasa akan menghormati ketahanan dirimu.” Bersabarlah menanggung derita dan segala kepedihanmu karena kebahagiaan di akhir hanya akan diperoleh melalui penderitaan sebelumnya.
Demikianlah, hikmah yang diberikan Rumi dari kisah tersebut di atas. Penulis jadi teringat pada waktu setahun yang lalu, seorang teman dekat sedang bersedih karena baru saja broke-up dengan kekasihnya, kesedihannya semakin bertambah ketika ia dipecat dari kerjaannya, manalagi skripsi tak kunjung selesai sementara masa study sudah berakhir (sudah 7 tahun mengabdi di universitas). Oh teman…

Entahlah apa yang dirasakannya dan apa yang dilakukan teman dekat itu hingga pada tahun ini skripsinya telah selesai, sudah wisuda, dan mempunyai kekasih baru yang sangat menyayangi diri teman dekat penulis.

Ada satu hal lagi nasehat yang disampaikan Rumi melalui bukunya, Fihi ma Fihi :

Palingkan wajahmu kepada Tuhan, karena makhluk ciptaan berada pada kondisi yang berbahaya. Bahkan dalam keadaanmu sekarang, kawanku, jangan lepas harapan, tetapi pandanglah Tuhan dan pasrahkan dirimu pada kehendakNya.

Quellen:

azri.free.org

Jalaludin Rumi.Fihi ma Fihi

Meyakini Keberadaan Allah

August 11, 2006

TUGAS MURID JUNAIDI AL-BAGHDADI

Junaidi Al-Baghdadi, seorang tokoh sufi, mempunyai anak didik yang amat ia senangi. Santri-santri Junaid yang lain menjadi iri hati. Mereka tak dapat mengerti mengapa Syeikh memberi perhatian khusus kepada anak itu.

Suatu saat, Junaidi menyuruh semua santrinya untuk membeli ayam di pasar untuk kemudian menyembelihnya. Namun Junaidi memberi syarat bahwa mereka harus menyembelih ayam itu di tempat di mana tak ada yang dapat melihat mereka. Sebelum matahari terbenam, mereka harus dapat menyelesaikan tugas itu.

Satu demi satu santri kembali ke hadapan Junaidi, semua membawa ayam yang telah tersembelih. Akhirnya ketika matahari tenggelam, murid muda itu baru datang, dengan ayam yang masih hidup. Santri-santri yang lain menertawakannya dan mengatakan bahwa santri itu tak bisa melaksanakan perintah Syeikh yang begitu mudah.

Junaidi lalu meminta setiap santri untuk menceritakan bagaimana mereka melaksanakan tugasnya. Santri pertama berkata bahwa ia telah pergi membeli ayam, membawanya ke rumah, lalu mengunci pintu, menutup semua jendela, dan membunuh ayam itu. Santri kedua bercerita bahwa ia membawa pulang seekor ayam, mengunci rumah, menutup jendela, membawa ayam itu ke kamar mandi yang gelap, dan menyembelihnya di sana. Santri ketiga berkata bahwa ia pun membawa ayam itu ke kamar gelap tapi ia juga menutup matanya sendiri. Dengan itu, ia fikir, tak ada yang dapat melihat penyembelihan ayam itu. Santri yang lain pergi ke hutan yang lebat dan terpencil, lalu memotong ayamnya. Santri yang lain lagi mencari gua yang amat gelap dan membunuh ayam di sana.

Tibalah giliran santri muda yang tak berhasil memotong ayam. Ia menundukkan kepalanya, malu karena tak dapat menjalankan perintah guru, “Aku membawa ayam ke rumahku. Tapi di rumahku tak ada tempat di mana Dia tak melihatku. Aku pergi ke hutan lebat, tapi Dia masih bersamaku. Bahkan di tengah gua yang teramat gelap, Dia masih menemaniku. Aku tak bisa pergi ke tempat di mana tak ada yang melihatku.

Keyakinan akan murid Junaidi Al-Baghdadi dalam kisah di atas akan kehadiran Allah di setiap saat dan di manapun ia berada tidak terlepas dari ajaran guru mursyidnya sendiri yaitu Junaidi Al-Baghdadi, yang mana keyakinan tersebut semakin terasah ketika Sang Guru memberikan tugas menyembelih ayam tanpa dilihat oleh siapapun. Namun kelihatannya santri-santri yang lain belum sampai pada maqam tersebut kecuali santri yang disenangi Junaidi Al-Baghdadi.

Junaidi Al-Baghdadi atau Abu al-Qasim al-Khazzaz al-Nahawandi al-Baghdadi al-Shafi’i adalah Syekh dari kaum sufi, lahir dan bertumbuh di kota Baghdad. Ia adalah tokoh sufi yang terkenal dan banyak ditemui di tiap-tiap garis silsilah thariqat-thariqat yang muktabaroh, dua di antaranya adalah thariqat Naqsabandiyah dan thariqat Qodiriyah.

Quellen:

azri.free.fr

salaam.co.uk

sunnah.org

en.wikipedia.org/wiki/Naqshbandi

sufinews.com

KETIKA IBRAHIM MENANGIS

August 11, 2006

Suatu hari, seorang tokoh sufi besar, Ibrahim bin Adham, mencoba untuk memasuki sebuah tempat pemandian umum. Penjaganya meminta wang untuk membayar karcis masuk. Ibrahim menggeleng dan mengaku bahwa ia tak punya wang untuk membeli karcis masuk.
Penjaga pemandian lalu berkata, “Jika engkau tidak punya wang, engkau tak boleh masuk.”
Ibrahim seketika menjerit dan tersungkur ke atas tanah. Dari mulutnya terdengar ratapan-ratapan kesedihan. Para pejalan yang lewat berhenti dan berusaha menghiburnya. Seseorang bahkan menawarinya wang agar ia dapat masuk ke tempat pemandian.

Ibrahim menjawab, “Aku menangis bukan karena ditolak masuk ke tempat pemandian ini. Ketika si penjaga meminta ongkos untuk membayar karcis masuk, aku langsung teringat pada sesuatu yang membuatku menangis. Jika aku tak diizinkan masuk ke pemandian dunia ini kecuali jika aku membayar tiket masuknya, harapan apa yang boleh kumiliki agar diizinkan memasuki surga? Apa yang akan terjadi padaku jika mereka menuntut: Amal salih apa yang telah kau bawa? Apa yang telah kau kerjakan yang cukup berharga untuk boleh dimasukkan ke surga? Sama ketika aku diusir dari pemandian karena tak mampu membayar, aku tentu tak akan diperbolehkan memasuki surga jika aku tak mempunyai amal salih apa pun. Itulah sebabnya aku menangis dan meratap.”

Dan orang-orang di sekitarnya yang mendengar ucapan itu langsung terjatuh dan menangis bersama Ibrahim.
source: Azri.free.fr