BAYAZID (ABU YAZID AL BUSTHAMI) DAN ORANG YANG MEMIKIRKAN DIRI SENDIRI

Pada suatu hari seseorang mengomel kepada Bayazid, seorang sufi di abad kesembilan, mengatakan bahwa ia telah berpuasa, berdoa, dan berbuat segalanya selama tiga puluh tahun namun tidak juga menemukan kesenangan seperti yang digambarkan Bayazid. Bayazid menjawab, orang itu bisa saja melanjutkan perbuatannya selama tiga ratus tahun lagi tanpa mendapatkan kesenangan juga.

” Mengapa begitu?” tanya si Sok-Saleh.

” Sebab kesombanganmu merupakan halangan utama bagimu.”

” Coba katakan apa obatnya.”

” Obatnya tak akan bisa kau laksanakan.”

” Bagaimanapun, katakan sajalah.”

Bayazid pun berkata, “Kau harus pergi ke tukang pangkas untuk mencukur janggutmu, (yang terhormat itu). Lepaskan semua pakaianmu dan kenakan korset. Isi sebuah kantung kuda dengan kenari sampai penuh, kemudian gantungkan di lehermu. Pergilah ke pasar dan berteriaklah, ‘akan aku berikan sebuah kenari kepada setiap anak yang memukul tengkukku’.Kemudian lanjutkan perjalananmu ke sidang pengadilan agar semua orang menyaksikanmu.”

” Tetapi aku tidak bisa melaksanakan hal itu; coba katakan cara lain yang sama manfaatnya.”

“Itu langkah pertama, dan satu-satunya cara.” kata Bayazid. “Tetapi sudah aku katakan padamu bahwa kau tidak akan bisa melakukannya, maka tidak ada obat lagi bagimu.”

Bahaudin An-Naqsabandi, seorang wali qutub, ahli sufi, juga mengajarkan kepada muridnya agar selalu “Illahi anta maksudi wa ridhoka mathlubi” yang artinya; Allah yang kumaksud RidhoMU yang kuikut. Maksudnya adalah tanpa atribut duniawi apapun ketika beribadah kepada Allah. Beribadah memiliki makna yang luas, bahkan segala sesuatu yang dilakukan oleh seorang hamba adalah hanya untuk beribadah kepada Tuhannya karena itu pula lah manusia diciptakan. Kesombongan dan sifat tidak tawaduk kepada Tuhan bagaimanapun akan menghambat seorang hamba mencapai makna hakiki dalam menjalankan tugasnya sebagai hamba. Sesuai dengan firman Allah:

Dan sebutlah (Nama) Allah dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut dengan suara yang tersembunyi (tidak mengeraskan suara), di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai (Q: Al Araaf 205).

Quellen:

Yayasan Jabal Qubis

media.isnet.org

almithrab.com

bahaudin naqsbandi.wikipedia.com

One Response to “Illahi Anta Maksudi Wa Ridhoka Mathlubi”

  1. adiost said

    asik artikelnya mas, lanjutkan menulis mas

Leave a Reply