bergantung padaNya
October 8, 2007
Suatu saat, seorang sufi bernama Khafif pergi menunaikan haji dengan hanya membawa sebuah ember dan seutas tali untuk menimba air minumnya. Di tengah perjalanan, ia melihat beberapa ekor kijang sedang berdiri di tepian sumur, sedang meminum air dari sumur itu. Ketika Khafif mendekati sumur, kijang-kijang itu pun berlari menjauh dan permukaan air sumur mendadak turun.Sekuat apa pun Khafif berusaha, ia tak juga dapat menimba air sumur itu. ia berdoa kepada Tuhan untuk menaikkan kembali permukaan air sumur itu seperti yang telah Tuhan lakukan untuk para kijang.
Lalu Suara Yang Agung menjawab, Kami tak dapat mengabulkan doamu; karena kau lebih bergantung kepada ember dan talimu daripada kepada kami. Ketika itu juga, Khafif membwang ember dan tali yang dibawanya dan permukaan air sumur pun langsung naik kembali. Segera Khafif menghapus rasa dahaganya.
Sepulang dari haji, Khafif menceritakan pengalamannya kepada Junaid Al-Baghdadi. Junaid berkata, Tuhan telah menguji kebergantunganmu kepadaNya. Jika saja kau menunggu sedikit lagi, air sumur itu akan meluap ke luar.
Penderitaan Adalah Awal Pencerahan bag.II
October 8, 2007
Seorang koki memasukkan buncis ke dalam kuali yang penuh minyak untuk dimasak. Buncis itu melompat-lompat kepanasan, ia meronta, meloncat ke tepi kuali dan berteriak, “Mengapa kau bakar aku? Tak cukupkah kau telah beli aku? Mengapa kau juga harus menyiksaku?”Koki itu membenamkannya kembali ke dalam kuali dengan sendoknya dan berkata, “Tenanglah, mendidihlah engkau dengan baik! Jangan lompat terlalu jauh dari ia yang menyalakanmu. Aku tak merebusmu karena aku membencimu. Aku memasakmu agar kau menjadi lezat dan penuh cita rasa. Agar kau dapat menjadi makanan dan bersatu dengan kehidupan. Penderitaanmu tak disebabkan karena aku menghinakanmu! Ketika kau segar dan hijau, kau selalu meminum air di kebun. Kau meminum air itu untuk bersiap menghadapi api ini.”
Kasih sayang Tuhan lebih besar dari penderitaan yang Dia berikan. Kasih sayang-Nya senantiasa lebih besar dari murka-Nya. Kau dididihkan dalam penderitaan dan kesengsaraan, tiada lain agar ego dan eksistensi dirimu lenyap tak berbekas! Kau berubah menjadi makanan, kekuatan, dan fikiran yang luhur. Dahulu kau lemah, kini kau seperkasa singa hutan.
Penderitaan Adalah Awal Pencerahan bag.I
October 8, 2007
Suatu hari, seorang lelaki tengah memecah tanah dengan cangkul. Seorang lelaki lain yang bodoh datang kepadanya dan berteriak, “Hei, mengapa kau merusak tanah itu?” kemudian, ”Tolol!” jawab si pencangkul “pergilah kau dan jangan ganggu aku! Mengertilah perbedaan antara penghancuran dan pertumbuhan. Bagaimana mungkin tanah ini berubah menjadi kebun mawar atau ladang gandum, bila sebelumnya tak kau pecah-pecah dan kau rusak? Bagaimana mungkin tanah ini menjadi petamanan yang penuh dengan dedaunan dan buah-buahan, bila sebelumnya tak kau hancurkan dan kau remukkan?
“Sebelum kau pecahkan bisulmu dengan pisau, bagaimana mungkin penyakitmu itu dapat sembuh? Sebelum tabib memulihkan kesehatanmu dengan obatnya yang pahit, bagaimana mungkin penyakitmu dapat hilang?”
“Ketika seorang penjahit menggunting sepotong kain, sedikit demi sedikit, apakah ada orang yang mendatanginya dan berteriak: Mengapa kau rusak satin indah ini? Apa gunanya serpihan-serpihan kain satin? Ketika para tukang datang untuk memperbaiki bangunan tua, bukankah mereka memulai pekerjaan mereka dengan menghancurkan bangunan itu terlebih dahulu?”
“Lihatlah para tukang kayu, pandai besi, atau tukang daging. Kau akan temukan bahwa penghancuran adalah awal dari pembaharuan. Penderitaan adalah awal dari pencerahan. Bila kau tak membiarkan biji-biji gandum itu untuk digiling, dari mana dapat kau peroleh roti untuk makananmu?”
Setelah membaca cerita ini, aku teringat akan kecelakaan yang aku alami beberapa hari yang lalu. Dalam keadaan yang terburu-buru (dikejar waktu), aku harus menempuh waktu setidaknya 30 menit dari Bandung menuju Jatinangor. Biasanya perjalanan tersebut ditempuh dalam waktu 50 menit bila mengendarai motor dan melewati jalur bypass Soekarno-Hatta. Oleh karena itu, aku mengebut kencang (80 km/jam) menggunakan motor matic. Selang waktu 7 menit sejak keberangkatan dari rumah, kecelakaan itu pun terjadi. Aku berencana menyalip di tengah-tengah antara bus DAMRI dan sebuah mobil kijang. Aku pikir, dengan menambah kecepatan aku bisa melewati jarak sempit di antara mobil itu, tapi ternyata perkiraanku salah. Aku terpaksa mengerem mendadak dan akhirnya bemper mobil kijang itu pun tersenggol oleh motorku. Hentaman kuat antara motor dan mobil membuatku terjatuh ke samping, motor pun ikut terjatuh. Bus DAMRI pun ikut-ikutan mengerem mendadak karena aku dan motorku yang sudah terjatuh berada tepat di depan bus itu. Sudah pun bus itu mengerem, motorku masih terkena gilasan ban bus DAMRI sebab aku dan motorku dalam keadaan sudah jatuh ke aspal. Tidak benar-benar digilas seperti yang di film-film itu. Tapi motorku cukup parah kondisinya akibat gilasan ban bus DAMRI bagian depan sebelah kiri. Badanku lebam-lebam karena bertubrukan dengan mobil, motor, bus DAMRI, dan jalan beraspal. Bukan untungnya, aku tidak mau mengambil kondisi “lebam-lebam” ini sebagai keberuntungan sebab apapun bentuk kecelakaannya tetap saja disebabkan oleh human error. Tapi begitu lah ceritanya, bahwa aku mengalami kecelakaan beberapa hari yang lalu.
Terpikir olehku, kesalahan apa yang pernah ku perbuat selama aku hidup di dunia setidaknya dalam beberapa minggu belakangan ini. Jawabannya, banyak sekali hingga tak bisa aku jabarkan. Akan tetapi ada hikmah yang aku dapatkan setelah kecelakaan itu terjadi; sehari sebelum hari “kecelakaan” itu terjadi, ibuku menasehati aku agar tidak mengendarai motor bila ingin pergi ke Jatinangor, tetapi aku bersikeras hingga terjadilah peristiwa itu. Pada akhirnya aku pun sadar, bahwa ibu adalah orang pertama yang harus dituruti kehendak dan nasihatnya. Sudah sepatutnya pula seorang anak bersikap patuh kepada orang tua. Jadi ini rupanya maksud Tuhan, pikirku. Ini pula awal pencerahan yang aku alami, karena bagaimana pun juga orangtua adalah transmisi pesan dari Allah. Kebahagiaan lahir dan batin yang aku alami di dalam hidupku, pasti bermula dari kebahagiaan orangtua akan kesholehan anaknya.