Tanggal 02 September 2009, aku mengunjungi salah satu klinik dokter yang cukup terkenal di kota Bandung. Waktu itu sudah menjelang maghrib, sedikit lagi waktunya berbuka puasa. Aku tidak membawa bekal apa-apa untuk berbuka, jadi aku pergi keluar sebentar untuk membeli sebotol air mineral. Akhirnya waktu berbuka pun tiba. Setelah berbuka dengan air mineral, aku pergi ke mushola yang terletak di lantai dua klinik tersebut. Di tangga, aku menemukan dua ekor kucing; seekor jantan dan seekor betina. Kucing jantan berwarna hitam legam dan Anggora! sementara yang betina hanyalah seekor kucing kampung (domestik). Aku tergiur untuk menghampiri kedua kucing itu, tapi aku tahan dulu hasrat ini karena aku harus ke mushola dulu.

Aku pun menghampiri mereka, mengelus-ngelus punggung dan kepala mereka. Si betina asik makan malam, memakan makanan milik si Anggora hitam. Namun, si Anggora hanya duduk santai di tangga itu. Aku tertarik dengan kucing jantan Anggora ini, kemudian aku kembali mengelus-elus kepala dan punggungnya. Ia mengeong, pertanda senang dan relax. Dia ingin bergerak menghampiri, ingin bergerak menuju aku agar ia bisa dengan leluasa duduk di atas pangkuanku. Kucing jantan Anggora itu memerlukan perhatianku! tapi sayang, dia dirantai! Tidak, rantainya tidak panjang. Hanya kira-kira 60 cm panjangnya. Dia tidak bisa pergi kemana-mana!!!

Kucing itu hanya bisa duduk di situ, di anak tangga itu. Memang, di sebelah tangga itu terdapat taman kecil, super kecil. Di taman super kecil itulah, tempat di mana dia harus turun satu anak tangga agar dia bisa ”buang air besar” (BAB) di atas tanah lembab penuh lumut. Hanya di taman super kecil itu, wilayah teritorialnya. Sangat sedikit bukan? apalagi dia dalam kondisi dirantai! Sampai sejauh mana dia mampu bermanuver, bila dihitung panjang rantainya. Belum lagi jika rantai kelilit pagar tangga, I can’t imagine it. Aku terus menatapnya, mengelus-elus punggung dan kepalanya, dan berbisik padanya. Aku bilang, “sabar ya Kucing…bersabarlah, dan minta ke Tuhan agar kau segera dilepas dan bebas seperti kucing betina itu.”

Ya, kucing betina itu tidak dirantai maka dia bebas berlari kesana- kemari. Bebas bermain dan bertarung layaknya seekor kucing. Sementara si Aggora hitam hanya bisa duduk sambil mengeong nyaring, meratapi nasibnya yang dibelenggu, dirantai!!!

Aku bertanya kepada salah satu pegawai di klinik itu, “apakah kucing ini milik si dokter?” dan si pegawai itu menjawab “iya.” Aku tanyakan lagi lebih detil tentang kebebasan hidup si Anggora dan akhirnya setelah aku mendapat penjelasan dari si pegawai, aku hanya bisa menatap kucing jantan Anggora itu sekali lagi. Air mataku menumpuk di pelipis, ingin kutumpahkan saja air mata ini rasanya. Malang, malang lah nasib kucing itu sebagai seekor makhluk hidup dengan segala kebutuhan dan hasrat yang dimilikinya. Aku pergi ke ruang tunggu dan mencoba berdamai dengan kondisi si kucing di dalam hati, berdamai dengan prilaku si dokter yang membelenggu binatang “seenak udelnya”. Apa sebab? kucing itu selalu dalam keadaan dirantai, tidak pernah dilepas, bahkan tidak pernah mendapatkan kehangatan dan kenyamanan apapun layaknya kebutuhan seekor kucing. Tidurnya, duduknya, berdirinya, buang air besar-nya, semuanya dilakukan di satu tempat yaitu di anak tangga yang berkeramik itu dan di sebagian kecil area taman super kecil itu.

Dari ruang tunggu di mana aku duduk menunggu panggilan antrian, aku mendengar kucing jantan Anggora itu mengeong-ngeong lagi, ingin dilepas saja rasanya! Lebih baik kucing itu lekas mati, supaya tidak tersiksa lagi oleh rantai besi buatan manusia…

Bertanya Kepada Ahlinya

August 27, 2009

Bila aku bertanya tentang pupuk organik kepada seorang tukang becak, maka dia hanya mampu menjawab sejauh yang ia tahu saja. Bila aku bertanya lebih detil tentang pupuk organik kepada tukang becak tersebut, maka dia akan geleng-geleng kepala pertanda ia tidak tahu menahu perihal apa yang sedang aku tanyakan. Artinya, segala sesuatu di dunia ini ada ahlinya. Contohnya, tukang besi ahli dalam melebur besi, tukang becak ahli dalam mengayuh becak dan dia hapal rute jalan, seorang petani ahli dalam praktek bertani, dan masih banyak contoh-contoh lainnya. Tapi seorang ahli tentu harus punya bukti authentic, bukti tertulis yang menyatakan secara sah bahwa dia adalah seorang ahli dalam suatu bidang supaya orang-orang percaya dan mudah meyakini eksistensi ahli tersebut.

Bila seorang ahli harus memiliki bukti tertulis, bagaimana pula dengan profesi tukang becak, tukang sayur, dan tukang pandai besi? kasihan juga dengan kenyataan itu. Untuk hal yang satu ini lebih baik tidak usah dibahas saja sebab permasalahannya perlu dipandang secara komprehensif oleh semua pihak terkait; pemerintah dan akademisi misalnya. Sampai saat ini bahkan belum aku temui sertifikat profesi tukang becak dan tukang sayur keliling.

Satu hal yang perlu kita sadari, setiap individu tentu berpotensi untuk menjadi seorang ahli karena individu-individu tersebut dianugrahkan otak untuk berpikir dan berbuat. Baiklah, aku akan memakai kata “orang” agar mudah dipahami. Orang-orang berpotensi, ada yang sadar dan ada yang tidak. Sebaliknya, banyak orang yang tidak memiliki potensi di salah satu bidang dan ada di antara mereka sadar akan hal itu dan ada yang tidak sadar. Tidak sadar, maksudnya orang itu memaksakan diri untuk mejadi ahli dalam suatu bidang padahal ia tidak memiliki potensi untuk menguasai bidang tersebut. Ini yang jadi penyakit hati dalam sebagian individu. Aku balik menggunakan kata “individu” karena hanya kata itu lah diksi yang tepat menurutku. Tentu saja aku sebut ini penyakit hati, sebab pengakuan “ahli” atas diri yang tidak dapat dibuktikan kepada orang lain dan memaksakan kehendak bahwa dia memang “seorang ahli” padahal bukan (karena tidak ada bukti authentic), adalah kemunafikan. Bohong, bahasa kasarnya.

Ini penting, saudara-saudaraku. Sebab, di zaman sekarang ini, zaman di mana kemerdekaan sudah di tangan, hampir semua orang memiliki ilmu pengetahuan dan keyakinan. Ilmu pengetahuan di bidang apa pun, itu yang aku maksud. Apa pun, bahkan dalam hal mencuri. Artinya, di zaman sekarang ini setiap orang tidak lagi dijajah akal pikirannya. Setiap orang di zaman sekarang ini sudah mampu berpikir dua-tiga kali sebelum melakukan sesuatu akibat dari perbaikan gizi dan tempaan zaman. Setiap orang bahkan sudah mampu mencerna, menyaring informasi yang buruk atau baik, makanya sekarang kita tidak bisa semena-mena memperbudak orang lain. Memperbudak di sini, maksudnya, memperbudak secara fisik dan mental. Ada kata lain yang lebih mudah dipahami, yaitu pembodohan secara fisik dan mental. Bagaimanapun, bila ada orang yang ngotot, keukeuh, memaksakan kehendaknya, pengetahuannya, keyakinannya, kepercayaannya kepada orang lain untuk diterima mentah-mentah, itu adalah perbudakan mental. Tidak ada hukum yang melarangnya, tentu saja. Hanya kesadaran dan kecakapan diri tiap-tiap individu yang dibutuhkan untuk melawan pembodohan itu.

Haruskah dilawan? bagaimana bila seorang mahasiswa dibodohi, dikadalin bahasa gaulnya, oleh dosen? Aku yakin banyak peristiwa antara dosen dan mahasiswa yang terjadi sekarang ini. Peristiwa pembodohan mahasiswa yang aku maksud. Contoh kasus, seorang dosen ahli di bidang Ilmu Pengetahuan Alam menggurui mahasiswanya tentang Ejaan Yang Dibenarkan (EYD). Sah-sah saja bila menggurui dalam konteks mengajar dalam kelas, atau bagian dari kurikulum. Sudah sepatutnya seorang mahasiswa mendengarkan apa yang diajarkan dosen tersebut di dalam kelas. Bahkan diskusi pun diperbolehkan. Di dalam kelas, etika seorang murid terhadap gurunya harus dijunjung tinggi. Tapi bila konteksnya di luar kelas, lain cerita. Apa sebab? seperti yang sudah aku jelaskan di atas, sudah bukan zamannya lagi pembodohan, perbudakan terjadi. Mahasiswa mampu berpikir dua-tiga kali, bahkan lebih. Mahasiswa mampu mencari referensi-referensi untuk mendukung apa yang telah ia yakini begitu pula sang dosen. Permasalahannya adalah referensi mana yang paling absah? referensi dari sang dosen atau si mahasiswa? Sekarang mari kita bertanya kepada ahlinya. Bukan memperdebatkan EYD versi sang dosen atau si mahasiswa yang benar, bukan pula memaksakan kehendak EYD versi sang dosen atau si mahasiswa yang paling benar. Aku sarankan sekali lagi, mari kita bertanya kepada ahlinya. Siapa ahlinya dalam urusan EYD? ada tidak sertifikatnya?

Bila ingin paham tentang ilmu Tajwid, bertanya lah pada ahlinya. Bila ingin paham tentang ilmu Ketuhanan, juga harus bertanya kepada ahlinya. Ingat, harus ditanyakan juga bukti keahliannya kecuali bila kita ingin selama-lamanya berkutat dalam pergolakan jiwa dan batin akibat dari kurang mampu menyaring informasi, kurang bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Aku tidak akan membahas lebih lanjut tentang siapa ahli ilmu Ketuhanan di sini sebab hal itu butuh pemahaman yang tidak segampang membalikkan telapak tangan. Aku juga bukan ahlinya untuk membicarakan tentang ilmu Ketuhanan. Sejujurnya, setiap orang berhak memilih karena hanya dirinya lah yang menjalani kehidupannya sendiri, bukan orang lain. 

Bila sudah berbicara tentang siapa ahlinya, memang pelik. Itu sebabnya dibutuhkan bukti tertulis, sertifikat, dan bukti authentic lainnya yang bisa dipercaya, bukan begitu? sekali lagi, bila tidak ada buktinya maka masing-masing dari kita harus dengan lapang dada dan berjiwa besar menerima konsekuensi.

Banyak peristiwa lain yang tidak dapat aku sebutkan satu-persatu di sini. Bagaimanapun, bila sertifikat akan keahlian suatu profesi sudah diberlakukan di zaman ini, di dunia ini, maka semua pihak harus menerima konsekuensinya. Berdiskusi, berargumentasi, Gedankenaustausch zu einem Thema atau berdebat merupakan beberapa dari banyak konsekuensi yang harus kita terima di zaman ini, kecuali bila kita masih ingin berkutat di zaman penjajahan dulu atau bila ingin berlama-lama di dunia diktator.

Aku pikir, itu sebabnya mengapa dalam setiap talkshow dihadirkan nara sumber atau keynote speaker. Dalam setiap paper, artikel tulisan, dan karya-karya ilmiah perlu dicantumkan daftar pustaka. Dalam setiap laporan hasil wawancara perlu dilampirkan profil lengkap orang yang diwawancara. Jadi jelas sumber-sumbernya sehingga tidak terjadi pembodohan. Bahkan dalam suatu talkshow yang sudah dihadirkan nara sumber pun, ahlinya sekali pun, masih terbuka ruang diskusi dan sesi tanya-jawab. Karena apa? karena “tak ada gading yang tak retak”. Semua orang bisa salah, tidak ada yang sempurna. Buktinya, teori Darwin dipermasalahkan banyak kaum saat ini.

Waktu berlalu begitu cepat. Dalam pikiranku, baru sebulan yang lalu aku berpuasa ramadhan, tapi nyatanya itu sudah setahun yang lalu. Sekarang sudah masuk bulan Ramadhan kembali dan aku tidak mempersiapkan diri seperti yang dilakukan banyak orang; mengaji, berzikir, dan menabung pahala. Aku tidak melakukannya sebelum bulan ramadhan tiba karena aku terlena dengan urusan duniawi.

Bulan Ramadhan, bulan penuh rahmat dan berkah. Bukan katanya, melainkan kenyataan yang kurang bisa diterima oleh akal pikiran manusia menurutku. Karena apa? aku pikir itu semua karena kita adalah manusia, makhluk tidak sempurna yang hanya diciptakan semata-mata untuk beribadah kepada-Nya. Namun, tak sedikit dari kita, manusia, yang menyadari kenyataan ini termasuk lah aku.

Bulan penuh rahmat dan berkah yang mampu disangkal oleh akal pikiran manusia akan kenyataannya. Ketika aku berpikir menggunakan otakku, akalku, sungguh aku tidak ingin bahkan enggan untuk beribadah di bulan Ramadhan. Aku enggan melaksanakan shalat taraweh selama satu bulan penuh, witir, bahkan bertadarus. Tadi sore saja aku tidur pulas hingga menjelang azan maghrib. Di otakku hanyalah urusan duniawi saja, itu sebabnya. Ketika aku melakukan sesuatu dengan menggunakan hati nuraniku, mengesampingkan pikiranku yang terbatas ini, sudah sembarang tentu aku tergerak untuk terus menerus beribadah kepada-Nya dalam bentuk apapun layaknya seorang hamba biasa.

Inilah hatiku, hati seorang manusia, yang masih berkerak hitam seperti pantat kuali. Itu sebabnya mengapa muncul pertanyaan seperti ini di benakku, “Apakah benar bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh rahmat dan berkah?” lantas timbul pertanyaan selanjutnya, “di manakah berkah itu?” Tidak, aku tidak akan menjawabnya. Aku sadar diri bahwa aku tidak sanggup mencari-cari jawabannya saat ini.

Mana bisa aku, kamu, atau kalian mengetahuinya dan tidak akan mampu mencar jawabannya bila berbekalkan otak yang volumenya bisa diatur-atur semau Dia. Tidak percaya padaku? Hari ini aku sadari bahwa dibutuhkan hati nurani yang suci, lubuk hati terdalam yang sering dikikis untuk menjaga kesuciannya, untuk menjawab semua teka-teki duniawi bahkan akhirat.