Kucing Dirantai, Apa Gunanya Dia Hidup?
September 4, 2009
Tanggal 02 September 2009, aku mengunjungi salah satu klinik dokter yang cukup terkenal di kota Bandung. Waktu itu sudah menjelang maghrib, sedikit lagi waktunya berbuka puasa. Aku tidak membawa bekal apa-apa untuk berbuka, jadi aku pergi keluar sebentar untuk membeli sebotol air mineral. Akhirnya waktu berbuka pun tiba. Setelah berbuka dengan air mineral, aku pergi ke mushola yang terletak di lantai dua klinik tersebut. Di tangga, aku menemukan dua ekor kucing; seekor jantan dan seekor betina. Kucing jantan berwarna hitam legam dan Anggora! sementara yang betina hanyalah seekor kucing kampung (domestik). Aku tergiur untuk menghampiri kedua kucing itu, tapi aku tahan dulu hasrat ini karena aku harus ke mushola dulu.
Aku pun menghampiri mereka, mengelus-ngelus punggung dan kepala mereka. Si betina asik makan malam, memakan makanan milik si Anggora hitam. Namun, si Anggora hanya duduk santai di tangga itu. Aku tertarik dengan kucing jantan Anggora ini, kemudian aku kembali mengelus-elus kepala dan punggungnya. Ia mengeong, pertanda senang dan relax. Dia ingin bergerak menghampiri, ingin bergerak menuju aku agar ia bisa dengan leluasa duduk di atas pangkuanku. Kucing jantan Anggora itu memerlukan perhatianku! tapi sayang, dia dirantai! Tidak, rantainya tidak panjang. Hanya kira-kira 60 cm panjangnya. Dia tidak bisa pergi kemana-mana!!!
Kucing itu hanya bisa duduk di situ, di anak tangga itu. Memang, di sebelah tangga itu terdapat taman kecil, super kecil. Di taman super kecil itulah, tempat di mana dia harus turun satu anak tangga agar dia bisa ”buang air besar” (BAB) di atas tanah lembab penuh lumut. Hanya di taman super kecil itu, wilayah teritorialnya. Sangat sedikit bukan? apalagi dia dalam kondisi dirantai! Sampai sejauh mana dia mampu bermanuver, bila dihitung panjang rantainya. Belum lagi jika rantai kelilit pagar tangga, I can’t imagine it. Aku terus menatapnya, mengelus-elus punggung dan kepalanya, dan berbisik padanya. Aku bilang, “sabar ya Kucing…bersabarlah, dan minta ke Tuhan agar kau segera dilepas dan bebas seperti kucing betina itu.”
Ya, kucing betina itu tidak dirantai maka dia bebas berlari kesana- kemari. Bebas bermain dan bertarung layaknya seekor kucing. Sementara si Aggora hitam hanya bisa duduk sambil mengeong nyaring, meratapi nasibnya yang dibelenggu, dirantai!!!
Aku bertanya kepada salah satu pegawai di klinik itu, “apakah kucing ini milik si dokter?” dan si pegawai itu menjawab “iya.” Aku tanyakan lagi lebih detil tentang kebebasan hidup si Anggora dan akhirnya setelah aku mendapat penjelasan dari si pegawai, aku hanya bisa menatap kucing jantan Anggora itu sekali lagi. Air mataku menumpuk di pelipis, ingin kutumpahkan saja air mata ini rasanya. Malang, malang lah nasib kucing itu sebagai seekor makhluk hidup dengan segala kebutuhan dan hasrat yang dimilikinya. Aku pergi ke ruang tunggu dan mencoba berdamai dengan kondisi si kucing di dalam hati, berdamai dengan prilaku si dokter yang membelenggu binatang “seenak udelnya”. Apa sebab? kucing itu selalu dalam keadaan dirantai, tidak pernah dilepas, bahkan tidak pernah mendapatkan kehangatan dan kenyamanan apapun layaknya kebutuhan seekor kucing. Tidurnya, duduknya, berdirinya, buang air besar-nya, semuanya dilakukan di satu tempat yaitu di anak tangga yang berkeramik itu dan di sebagian kecil area taman super kecil itu.
Dari ruang tunggu di mana aku duduk menunggu panggilan antrian, aku mendengar kucing jantan Anggora itu mengeong-ngeong lagi, ingin dilepas saja rasanya! Lebih baik kucing itu lekas mati, supaya tidak tersiksa lagi oleh rantai besi buatan manusia…
Tsunami worse than an earthquake – Times Online
September 3, 2009
SUPERINDO dukung anti sampah plastik.
May 21, 2009
Hari Minggu (17.05.09) aku pergi berbelanja ke SUperindo, super market ternama di Indonesia khususnya Bandung. Aku hanya membeli beberapa item seperti paprika bubuk, tomat, dan bawang bombay karena malam ini aku berencana untuk memasak sesuatu yang berbahan dasar Penne.
Setelah mengitari lorong demi lorong, mencari secara detil produk-produk mereka yang akan dibeli, menimbang-nimbang merek apa yang akan dipilih, akhirnya aku sampai kepada satu lorong dimana rak etalase untuk bahan-bahan saus dan kecup dipajang. Di rak etalase itu pula aku menemukan tas belanja produk Superindo terpajang dan dijual dengan harga Rp. 10.000,- Tas itu cukup kuat dan bervolume besar. Cukup untuk memuat bahan-bahan makanan selama satu minggu. Aku bahkan melihat beberapa konsumen membeli tas belanja tersebut dan menggunakannya sebagai pengganti kantong plastik. Aku salut, akhirnya ada juga super market yang mendukung gerakan anti sampah plastik.
Aku berharap pada diriku sendiri dan konsumen lainnya agar setelah membeli tas belanja tersebut, kita dapat menggunakannya secara kontinu dan belajar agar terbiasa tidak menggunakan kantong plastik lagi.
Aku juga berharap agar Superindo selalu mendukung gerakan anti sampah plastik dan suatu saat agar memproduksi tas belanja yang berbahan dasar kertas.