Archive

Archive for the ‘Konsumensentris’ Category

Terjebak dalam kata Pink Piece of Paper

July 1, 2010 1 comment
Luggage Mama tertinggal di Changi Airport, peristiwa yang menghebohkan ketika kami baru saja merebahkan tubuh ke kasur springbed yang udah usang dan keras (padahal ini adalah hotel bintang 4 yang cukup terkenal di Singapura). Aku dan abang ditugaskan untuk mengurus luggage yang tertinggal itu di Changi Airport. Dengan taksi, kami pun segera menuju ke sana dan berharap proses untuk mendapatkan tas itu tidak memakan waktu yang lama.

Sesampainya di Changi, bandara internasional Singapura yang didesain modern dan dilengkapi petunjuk-petunjuk dalam tiga bahasa yaitu Melayu, Inggris dan Mandarin, kami pun segera menghampiri meja Information Center. Di sana ada dua perempuan yang bertugas melayani turis. Si abang, suamiku, menghampiri petugas perempuan dan memberitahukan perihal luggage yang tertinggal. Tanpa senyum perempuan itu menjelaskan dalam bahasa Inggris dengan pengucapan (pronounciation) dan logat yang sarat Mandarin langkah-langkah yang harus kami lalui demi sampai di Lost and Found Office. Dari semua penjelasan yang dia lontarkan (pengucapan bahasa Inggris yang kacau-balau, grammar yang rancu, pengucapan yang sarat Mandarin dan suara yang pelan), hanya kalimat “…basement…then pick pink piece of paper…” ini yang terekam di otak kami.

Oke…oke…basement…dan yang pasti kami harus mengambil “pink piece of paper”.

Sesampainya di basement, sumpah kami bengong. Di bawah itu ada sebuah kantor bertuliskan “…basement” (aku beneran gak ingat nama office-nya) dan di situ banyak orang-orang yang mengantri entah untuk alasan apa. Ketika kami bertanya ke seorang petugas (warga Singapura) di dalam kantor untuk pengurusan unclaimed luggage, dia memberitahu kami bahwa kami harus mengurus surat izin di police agency. Police agency…!!!

Aku memutuskan untuk kembali ke Information Center dan di sana aku berkata langsung ke petugas perempuan dengan logat singapura yang dibangga-banggakannya dan bahasa Inggrisnya yang kacau itu, “Halo…Your english is not good and we can’t understand every single thing you’ve said to us. So please tell me once again about what should we do and…please…speak…english…slowly.”

Dengan wajah masam, petugas itu menjelaskan kepadaku SEKALI LAGI langkah-langkah yang harus kami lalui demi mendapatkan tas mama yang tertinggal di Changi.

Soal “…pick pink piece of paper…” yang benar-benar terdengar seperti ” picky picky piece of paper” bagiku, ternyata…kami harus ikut mengantri di salah satu kantor di basement. Ya! tadi telah disebutkan bahwa di basement ada sebuah kantor di mana banyak orang mengantri entah untuk alasan apa dan kami harus ikut mengantri di sana. Dan untuk kata-kata “police agency” yang benar-benar membuat kami tercengang karena kami pikir…kami harus berurusan dengan polisi hanya untuk sebuah tas yang tertinggal! ternyata petugas itu bermaksud untuk memberitahu kami bahwa kami harus mendapatkan izin dari polisi agar bisa masuk ke area check-in yang mana di situ lah terletak kantor Lost and Found. DAN…sebuah notes kecil berukuran 7×5 cm berwarna PINK! adalah surat izin dari polisinya. Aaaaarrgghh!!!

Categories: Konsumensentris

Supir Taksi Malaysia Tidak Ramah

July 1, 2010 2 comments

Liburan ke Malaysia ibarat berlibur ke negri sendiri. Kota Kuala Lumpur mirip dengan kota Jakarta, yang membedakannya adalah kebersihan dan keramahan masyarakatnya. Poin pentingnya adalah, Indonesia adalah negara paling ramah sedunia!!! dan ini patut diberi penghargaan.

Kemarin aku baru balik dari KL (Kuala Lumpur) dengan menggunakan pesawat KLM boeing 809. Harga tiketnya murah banget, seperti harga tiket Lion Air Jakarta-Medan yaitu 700ribu rupiah. Pramugari dan pramugaranya adalah orang Belanda asli sebab pesawat itu memang milik Belanda, seperti Garuda Airlines saja. Mereka cukup ramah namun…bila dibandingkan dengan orang Indonesia, yah…keramahan Indonesia memang gak ada tandingannya.

Aku ceritakan kejadian yang masih fresh di dalam pesawat KLM itu tepat pesawat itu akan take off. Seorang ibu WNI dimarahi oleh seorang pramugari Belanda (pramugari dan pramugari Belanda bisa berbahasa Indonesia lho) karena kesalahpahaman nomor tempat duduk. Pasalnya seorang penumpang warga negara Malaysia bertukar tempat duduk dengan ibu WNI tanpa sepengetahuan ibu WNI (yang masih memegang tiket dengan nomor tempat duduk yang ditempati oleh penumpang Malaysia itu). Penumpang Malaysia bersikeras duduk di tempat itu agar berdekatan dengan keluarganya. Akhirnya i pramugari mengucapkan kata-kata “saya sangat marah…” (aku gak ingat kelanjutannya). Intinya, dua penumpang itu dimarahi dan penumpang WNI (seorang ibu) mengalah dan pindah ke tempat duduk lain yang masih kosong (saat itu pesawatnya penuh dengan penumpang dari Belanda dan Malaysia). Kata-kata “saya sangat marah…” terasa kasar di telingaku yang duduk di seberang kursi, sebab menurutku seorang pramugari gak pantas melontarkan kalimat ekspresi kekesalan di hadapan penumpang yang mana seorang penumpang adalah seorang konsumen yang memilih maskapai itu. Tentunya, seorang konsumen berhak mendapatkan pelayanan terbaik bukan? meskipun kesalahan ada di penumpang, tetap saja harus ditanggapi secara baik-baik oleh si pramugari kan?

Nah…kejadian ke dua. Tiga jam sebelum aku dan keluargaku berangkat menuju KLIA, aku singgah sebentar di Petaling Street atau biasa disebut China Town. Aku pun menyewa taksi menuju China Town dengan biaya RM10. Setelah mengitari China Town demi membeli banyak suvenir termasuk teh dan coklat, aku pun memilih taksi lagi untuk kembali pulang ke hotel di kawasan Bukit Bintang. Bukit Bintang adalah kawasan yang dipadati turis asin seperti kawasan Braga-Bandung, Kesawan-Medan, dan Radio Dalam-Jakarta. Di bagian luar taksi tertulis (Meter only, request prohibited). Artinya taksi itu memakai argo dan gak boleh ada tawar menawar. Aku menyetop taksi itu, taksi pun berhenti tepat di hadapanku namun dia tidak membuka jendela. Aku buka saja pintunya dan duduk di dalam untuk bertanya apakah bisa dilakukan tawar menawar atau hanya argo saja yang diperbolehkan. Aku menawarkan RM10 menuju Bukit Bintang, dan dia memintaku untuk menutup pintu taksi sambil mengomel dalam bahasa Melayu yang sumpah…aku gak ngerti dan intonasinya kasar banget. Intinya dia memberitahuku bahwa penumpang yang berlagak, dia tidak suka dan tidak akan dilayani atau diantar ke tempat tujuan.

Bingung…

Awalnya aku pikir, ini mungkin masalah perbedaan bahasa dan intonasi ataupun dialek. Tapi…bisa aku bandingkan dengan supir taksi Indonesia dari perusahaan taksi ternama dan terkenal senusantara yaitu dari Bluebird Group, bahwa supir taksi Indonesia tidak pernah sekalipun mengatakan hal seperti itu ke penumpangnya. Apalagi memvonis penumpang dengan kata-kata “berlagak…”

Aku tidak merespon supir taksi Malaysia itu. Cukuplah supir itu mengerti bahwa RM10 menuju Bukit Bintang dan memang supir itu mengerti. Kemudian supir itu bertanya tentang pekerjaanku, apa yang aku lakukan di Kuala Lumpur, nginap di mana, naik pesawat apa, dan akhirnya ia menawarkan jasa antar dari hotel menuju KLIA seharga RM70. Tapi dia menekankan bahkan menegaskan bahwa hanya tiga penumpang yang boleh masuk ke dalam taksinya dan hanya dua koper (luggage) saja yang dibolehkan masuk ke dalam bagasinya karena dia punya banyak barang pribadi di bagasi taksinya. Dalam hatiku, “What the f*ck?!”

Aku beritahu supir itu bahwa aku harus mendiskusikan penawaran ini ke keluargaku sebab kami ada tujuh orang, dengan lebih dari 10 koper (luggage) dan memerlukan dua taksi menuju KLIA (bandara internasional Malaysia). Tetapi supir itu malah berkata (seolah-olah dia merasa harus defense), “Oh…harus cepat lah. saya tunggu 10 menit. kalau tak dapat jawab 10 menit, saya tinggal lah. saya punya urusan lain ni.soalnya RM70 nak ke KLIA tak dapat lagi lah.tapi cuma 2 bag dan 3 orang saja. kalo nak banyak, saya nak cari taksi laen lah.”

Dalam hatiku, “who gives a shit! ente mau punya urusan ato enggak, I don’t care. masih banyak taksi lain…”

Akhirnya aku beritahu dia,” Aku cari taksi lain saja. nih 10 ringgit…” kemudian aku pun segera menutup pintu taksi itu dan masuk ke hotel.

Parah…parah…parah…

Emangnya dia aja yang punya taksi paling oke sedunia????!!!

Ternyata, taksi yang suka nongkrong tepat di depan hotel ini (di kawasan Bukit Bintang), di dekat Plaza Low Yat, dengan senang hati membawa kami menuju KLIA seharga RM70. Supirnya ramah, penumpang pun senang.

Categories: Konsumensentris

Acung Jempol Buat Satpam Bank Mandiri

February 13, 2010 Leave a comment

Kira-kira dua minggu yang lalu (aku lupa harinya), aku mengantar mein Mann ke kantornya yang berlokasi di kawasan Kalibata Jakarta mengendarai motor. Mein Mann masih belum mahir mengendarainya, tapi setidaknya ada sedikit kemajuan dibandingkan dengan pertama kali mein Mann mengendarai motor. Ketika dalam perjalanan pulang, aku mampir ke pasar Ramayana yang terletak di sebelah Carrefour Kramat Jati untuk membeli perlengkapan sulam. Sesaat setelah memarkirkan motor, aku tersadar bahwa aku tidak bawa uang cash. Untungnya di sana terdapat beberapa bank seperti Bank Mandiri dan Bank BRI beserta ATM-nya.
Kawasan Kramat Jati hingga Cililitan memang terkenal macet tiap pagi dan sore. Situasi ini membuatku bosan dan mengantuk ketika bersama-sama dengan mein Mann mengendarai motor menuju kantornya. Makanya aku selalu membawa MP3 Player agar tidak bosan dan ngantuk. Setelah mengambil uang di ATM Mandiri di pasar Ramayana, aku bergegas menuju toko sulam. Tawar-menawar dan mengobrol dengan si penjual memang memakan waktu yang lama, tapi aku betah karena pelayanannya bagus dan untungnya aku mendapatkan benang Anchor dengan harga super miring! Sayang koleksi warna benang Anchor miliknya sangat sedikit.

Ketika perjalanan pulang, aku tersadar bahwa aku kehilangan MP3 Player. Aku berpikir, berusaha mengingat-ingat di mana aku meninggalkannya. Sempat putus asa juga sih, karena sudah dua jam berlalu sejak aku meninggalkan mesin ATM. Tak lama kemudian aku mendatangi bank Mandiri yang terletak di pasar Ramayana ini, siapa tahu ada orang bak yang menemukan MP3 Player dan menitipkannya ke satpam. Agak putus asa mengharapkan orang baik dan jujur di zaman sekarang ini, tapi tetap berusaha bukanlah ide yang buruk.

Aku menghampiri satpam bank Mandiri tersebut dan menanyakan perihal MP3 Player. Alhamdulillah, satpam itu menyimpan MP3 Player tersebut setelah menemukannya di mesin ATM. Aku tidak menanyakan lebih jauh, siapa yang menemukannya sebab aku terlalu gembira. Siapa pun yang menemukannya dan berinisiatif menyimpannya di tempat yang aman, rezeki berlimpah akan datang kepadanya dan semoga dianugrahi kesehatan sepanjang hayatnya. Amin.

Terima kasih kepada pak Satpam yang telah menyimpan MP3 player ini, yang dengan senyum ramahnya melayani aku yang sedang kebingungan mencari MP3 Player. Terima kasih juga kepada orang (siapa pun itu) yang dengan jujur dan baik hati menitipkan MP3 player ini kepada pak Satpam. Semoga rezeki dan kesehatan melimpah kepada kalian.

Categories: Konsumensentris
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.