Home > Heaven's Unlimited > Menyikapi Makhluk Pemalas

Menyikapi Makhluk Pemalas

Tak banyak orang tua, guru-guru, maupun orang dewasa lainnya yang mengerti dan memahami bagaimana cara menghadapi dan menyikapi manusia pemalas. Lihat saja budaya memarahi anak kecil dan sering berlaku kasar kepada anak kecil pun terhadap orang yang kurang pandai.

Boleh saja membaca buku-buku psikologi anak, psikologi orang tua, dan buku-buku lainnya yang berhubungan dengan pola pengajaran dan penyadaran. Pun ada baiknya juga membaca cerita di bawah ini yang sengaja penulis kutip dari media lain untuk di-share, secara cara penyampainnya lebih mudah dan lebih enak dibaca.

PERUMPAMAAN TENTANG ORANG-ORANG RAKUS

Zaman dulu ada seorang petani yang suka bekerja keras dan berbudi baik, yang mempunyai beberapa anak laki-laki yang malas dan rakus. Ketika sekarat, si Tua mengatakan kepada anak-anaknya bahwa mereka akan menemukan harta karun kalau mau menggali tempat tertentu di kebun. Segera setelah ayah itu meninggal, anak-anaknya bergegas ke kebun, menggalinya dari satu sudut ke sudut yang lain, dengan putus asa dan kehendak yang semakin memuncak setiap kali mereka tidak menemukan emas yang disebut ayahnya tadi.

Namun mereka sama sekali tidak menemukan emas. Karena menyadari bahwa ayah mereka itu tentunya telah membagi-bagikan emasnya semasa hidupnya, lelaki-lelaki muda itupun meninggalkan usahanya. Akhirnya, terpikir juga oleh mereka, karena tanah sudah terlanjur dikerjakan, tentunya lebih baik ditanami benih. Merekapun menanam gandum, yang hasilnya melimpah-limpah. Mereka menjualnya, dan tahun itu mereka menjadi kaya.

Setelah musim panen, mereka berpikir lagi tentang harta terpendam yang mungkin masih luput dari penggalian mereka; merekapun menggali lagi ladang mereka, namun hasilnya sama saja.

Setelah bertahun-tahun lamanya, merekapun menjadi terbiasa bekerja keras, disamping juga mengenal musim, hal-hal yang tak pernah mereka pahami sebelumnya. Kini mereka memahami cara ayah mereka melatih mereka; merekapun menjadi petani-petani yang jujur dan senang. Akhirnya mereka memiliki harta yang cukup untuk membuat mereka melupakan perkara harta terpendam tersebut.

Itulah juga ajaran tentang pengertian terhadap nasib manusia dan karma kehidupan. Guru, yang menghadapi ketidaksabaran, kekacauan, dan ketamakan murid-murid, harus mengarahkan mereka ke suatu kegiatan yang diketahuinya akan bermanfaat dan menguntungkan mereka tetapi yang kepentingan dan tujuannya sering tidak terlihat oleh murid-murid itu karena kebelumdewasaan mereka.

Catatan

Kisah ini, yang menggaris-bawahi pernyataan bahwa seseorang bisa mengembangkan kemampuan tertentu meskipun sebenarnya ia sebenarnya berusaha mengembangkan kemampuannya yang lain, dikenal sangat luas. Hal ini mungkin disebabkan adanya pengantar yang berbunyi, “Mereka yang mengulangnya akan mendapatkan lebih dari yang mereka ketahui.”

Kisah ini diterbitkan oleh seorang ulama Fransiskan, Roger Bacon (yang mengutip filsafat sufi dan mengajarkannya di Oxford, dan kemudian dipecat dari universitas itu atas perintah Paus) dan oleh ahli kimia abad ketujuh belas, Boerhaave.

Versi ini berasal dari Hasan dari Basra, Sufi yang hidup hampir seribu dua ratus tahun yang lalu.

Dikutip dari media.isnet.org

Categories: Heaven's Unlimited
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: