Home > Thoughts > Mengatasi Konflik Ketidakjujuran Pasangan

Mengatasi Konflik Ketidakjujuran Pasangan

Alkisah seorang pria bernama Roni berencana pergi ke suatu tempat di daerah Gatot Subroto Jakarta. Dia telah berpakaian rapi, simpel, casual, dan wangi bunga Kasturi di tubuhnya sangat harum merebak ke seluruh ruangan. Dua jam lagi acara pertemuan Pesta Teh Bareng Klub Teater akan dimulai. Roni pun bergegas menyisir rapi rambut gelombangnya kemudian ia pakai topi berwarna hitam yang dibelinya beberapa bulan yang lalu. It’s time to act…he said.

Pesta Teh Bareng Klub Teater akan dihadiri oleh salah satu teman Roni bernama Dina. Mereka sudah saling kenal sejak lima bulan yang lalu dan hubungan mereka kian akrab seiring dengan berjalannya waktu. Apalagi jarak rumah mereka memang berdekatan. Rencana hang out Roni di Klub Teater ini tidak diketahui oleh kekasih Roni. How come? and why?

Pertanyaan di atas sangat familiar bukan?

Sekarang mari kita lihat sisi sebaliknya. Roni dan Sinta sedang makan malam bersama di sebuah warung Pecel Lele di daerah Dipati Ukur-Bandung. Sambil menyantap Nasi+Pecel Lele, Roni bercerita panjang lebar tentang pengalamannya merakit pesawat mini bersama teman-teman kampusnya. Sementara itu Sinta sedang asik ber-sms ria dengan teman dekatnya yang bernama Rianti. “Kamu cerita aja, aku pasti mendengarkan kok…tapi sambil balas sms ya…” begitu ujar Sinta sebelum Roni mulai bercerita. Lama-kelamaan Roni jengah melihat tingkah Sinta. Roni merasa tidak diperhatikan dan self esteem-nya pun menjadi turun dan ia pun mulai bertanya-tanya di dalam hati, dia lagi ngebales sms dari siapa sih? Sebenarnya dia menyimak cerita aku tadi gak sih? Jangan-jangan…?

Sounds familiar?

Ketidakjujuran selalu menjadi masalah dalam suatu hubungan sepasang kekasih. Sepasang kekasih yang sudah menjalin hubungan selama bertahun-tahun sekalipun bisa bubar hanya karena ketidakjujuran. Entah itu datang dari pihak perempuan ataupun dari pihak laki-laki. Semua orang pernah berbuat tidak jujur terhadap orang lain apalagi diri sendiri. Rasa bersalah pasti ada dan sebagai akibat dari ketidakjujuran itu, pihak yang dibohongi pun bisa kesal dibuatnya. Pertanyaan mengapa berdusta, mengapa begini dan mengapa begitu tampak tidak berguna jika dijadikan sebagai senjata pemusnah ketidakjujuran karena apa? Bukankah masing-masing dari kita menjunjung tinggi privasi dan rahasia?

Sekarang mari kita anggap bahwa menjaga privasi dan rahasia itu adalah benar dan semua alasan-alasan lain mengapa tidak jujur terhadap pasangan bisa diterima dengan akal. Namun yang menjadi permasalahan adalah, bagaimana mengatasi konflik yang ditimbulkan oleh ketidakjujuran dari kekasih yang sangat kita cintai sehidup semati? Sehingga kerak-kerak hati tidak semakin menebal hanya karena masalah ketidakjujuran dan supaya cinta-kasih terus berlanjut hingga akhir hayat yang memisahkan. How?

1. Belajar untuk positive thinking mulai dari detik ini. Positive thinking banyak memberikan manfaat seperti kesejukan jiwa, ketabahan hati, kerendahan hati, menimbulkan karakter bersahabat, dan menghindarkan permusuhan.

2. Belajar untuk ikhlas dalam melakukan segala sesuatu. Ikhlas dalam arti TIDAK MENGHARAPKAN BALASAN APAPUN karena jika kita mengharapkan imbalan yang setimpal maka perasaan curiga dan terancam akan bercokol terus selamanya dan bisa membuat kita uring-uringan setiap saat.

3. Hilangkan perasaan rendah diri dengan banyak-banyak berzikir. Jika wudhu bisa mensucikan badan, maka kotornya hati bisa disucikan dengan zikirullah

4. Bukan menginterogasi tetapi berdiskusi (seperti yang dilakukan polisi penginterogasi para kriminal saja.)

5. Tanyakan langsung kepada orang yang tidak jujur tentang kendala yang ia hadapi ketika ingin berkata jujur kemudian kumpulkan jawaban sebanyak mungkin dan jangan dianalisa, cukup didengarkan saja. Jika telah diketahui kendalanya apa, maka kita akan mendapatkan jawaban mengapa dia tidak mengatakan yang sebenarnya bukan?

6. Beritahu kepada pasangan anda yang sudah tidak jujur kepada anda bahwa anda bukanlah orang yang egois dan suka mengekang kesenangan orang lain.

7. Beritahu juga kepada pasangan anda bahwa segala sesuatunya bisa dikompromikan dengan anda karena anda bukanlah orang yang suka memaksakan kehendak

8. Selesaikan masalah hari itu juga

9. Berdiskusi tanpa ada nada tinggi

10. Toleransilah…

11. Maafkan kesalahannya dan jangan diingat-ingat lagi apalagi diungkit-ungkit.

12. Last but not least…sadarlah bahwa status pacar sebenarnya tidak menjamin apapun. Untuk itu, langsung menikah saja.

Categories: Thoughts
  1. Tejo
    August 30, 2009 at 20:34

    Thx yah buat ceritanya… GBU

    • September 1, 2009 at 13:55

      sama-sama…begitulah ceritanya pak…

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: