Home > Heaven's Unlimited > Penderitaan Adalah Awal Pencerahan bag.I

Penderitaan Adalah Awal Pencerahan bag.I

Suatu hari, seorang lelaki tengah memecah tanah dengan cangkul. Seorang lelaki lain yang bodoh datang kepadanya dan berteriak, “Hei, mengapa kau merusak tanah itu?” kemudian, “Tolol!” jawab si pencangkul “pergilah kau dan jangan ganggu aku! Mengertilah perbedaan antara penghancuran dan pertumbuhan. Bagaimana mungkin tanah ini berubah menjadi kebun mawar atau ladang gandum, bila sebelumnya tak kau pecah-pecah dan kau rusak? Bagaimana mungkin tanah ini menjadi petamanan yang penuh dengan dedaunan dan buah-buahan, bila sebelumnya tak kau hancurkan dan kau remukkan?

“Sebelum kau pecahkan bisulmu dengan pisau, bagaimana mungkin penyakitmu itu dapat sembuh? Sebelum tabib memulihkan kesehatanmu dengan obatnya yang pahit, bagaimana mungkin penyakitmu dapat hilang?”

“Ketika seorang penjahit menggunting sepotong kain, sedikit demi sedikit, apakah ada orang yang mendatanginya dan berteriak: Mengapa kau rusak satin indah ini? Apa gunanya serpihan-serpihan kain satin? Ketika para tukang datang untuk memperbaiki bangunan tua, bukankah mereka memulai pekerjaan mereka dengan menghancurkan bangunan itu terlebih dahulu?”

“Lihatlah para tukang kayu, pandai besi, atau tukang daging. Kau akan temukan bahwa penghancuran adalah awal dari pembaharuan. Penderitaan adalah awal dari pencerahan. Bila kau tak membiarkan biji-biji gandum itu untuk digiling, dari mana dapat kau peroleh roti untuk makananmu?”

Setelah membaca cerita ini, aku teringat akan kecelakaan yang aku alami beberapa hari yang lalu. Dalam keadaan yang terburu-buru (dikejar waktu), aku harus menempuh waktu setidaknya 30 menit dari Bandung menuju Jatinangor. Biasanya perjalanan tersebut ditempuh dalam waktu 50 menit bila mengendarai motor dan melewati jalur bypass Soekarno-Hatta. Oleh karena itu, aku mengebut kencang (80 km/jam) menggunakan motor matic. Selang waktu 7 menit sejak keberangkatan dari rumah, kecelakaan itu pun terjadi. Aku berencana menyalip di tengah-tengah antara bus DAMRI dan sebuah mobil kijang. Aku pikir, dengan menambah kecepatan aku bisa melewati jarak sempit di antara mobil itu, tapi ternyata perkiraanku salah. Aku terpaksa mengerem mendadak dan akhirnya bemper mobil kijang itu pun tersenggol oleh motorku. Hentaman kuat antara motor dan mobil membuatku terjatuh ke samping, motor pun ikut terjatuh. Bus DAMRI pun ikut-ikutan mengerem mendadak karena aku dan motorku yang sudah terjatuh berada tepat di depan bus itu. Sudah pun bus itu mengerem, motorku masih terkena gilasan ban bus DAMRI sebab aku dan motorku dalam keadaan sudah jatuh ke aspal. Tidak benar-benar digilas seperti yang di film-film itu. Tapi motorku cukup parah kondisinya akibat gilasan ban bus DAMRI bagian depan sebelah kiri. Badanku lebam-lebam karena bertubrukan dengan mobil, motor, bus DAMRI, dan jalan beraspal. Bukan untungnya, aku tidak mau mengambil kondisi “lebam-lebam” ini sebagai keberuntungan sebab apapun bentuk kecelakaannya tetap saja disebabkan oleh human error. Tapi begitu lah ceritanya, bahwa aku mengalami kecelakaan beberapa hari yang lalu.

Terpikir olehku, kesalahan apa yang pernah ku perbuat selama aku hidup di dunia setidaknya dalam beberapa minggu belakangan ini. Jawabannya, banyak sekali hingga tak bisa aku jabarkan. Akan tetapi ada hikmah yang aku dapatkan setelah kecelakaan itu terjadi; sehari sebelum hari “kecelakaan” itu terjadi, ibuku menasehati aku agar tidak mengendarai motor bila ingin pergi ke Jatinangor, tetapi aku bersikeras hingga terjadilah peristiwa itu. Pada akhirnya aku pun sadar, bahwa ibu adalah orang pertama yang harus dituruti kehendak dan nasihatnya. Sudah sepatutnya pula seorang anak bersikap patuh kepada orang tua. Jadi ini rupanya maksud Tuhan, pikirku. Ini pula awal pencerahan yang aku alami, karena bagaimana pun juga orangtua adalah transmisi pesan dari Allah. Kebahagiaan lahir dan batin yang aku alami di dalam hidupku, pasti bermula dari kebahagiaan orangtua akan kesholehan anaknya.

Categories: Heaven's Unlimited
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: