Home > Heaven's Unlimited > Kisah Kucing Hitam dan Seekor Anak Kucing

Kisah Kucing Hitam dan Seekor Anak Kucing

We learn how to be care with another person from a cat

We learn how to be care with another person from a cat

Ketika suatu malam yang dingin dan lembab menyisakan genangan-genangan air dan embun-embun di dedaunan, daun-daun yang menaungi tanah lembab; tanah di dalam pot tanaman atau di lahan garapan, seekor kucing berwarna hitam legam duduk termangu sambil memandang jauh ke ujung jalan. Ia terus memandang ujung jalan itu hingga akhirnya ia pun lelah.

Kucing itu terduduk lelah, menangkup kedua tangannya, melipat kedua kakinya, dengan mata yang lelah namun masih ingin terus memandangi ujung jalan itu. Ia tidak dapat berbuat apa-apa, sebab tidak satu manusia pun di zaman ini yang mengerti akan perkataannya. Kucing itu masih duduk di sana, di balik dedaunan basah berembun, di atas tanah lembab akibat hujan tadi sore.

Matanya sesekali terpejam, tak sanggup menahan kantuk dan tiupan angin malam yang dingin. Ingin rasanya ia merebahkan saja tubuhnya yang kekar itu ke atas tanah lembab nan empuk itu. Tapi ia tetap saja menahan kantuk itu, tidak ingin tertidur sebelum ia memakan sesuatu malam ini, entah dari mana asalnya. Kucing hitam itu hanya tahu bahwa dari ujung jalan itu pasti ada seseorang yang memberinya makanan meskipun tidak setiap hari. Matanya yang indah lagi-lagi terpejam hingga akhirnya ia benar-benar terbangun karena seekor anak kucing berkata padanya, menyapanya dari belakang punggungnya dengan suara yang lirih.

Anak kucing: Bang…wahai abang yang berbulu hitam…

Kucing hitam: Siapa kau? sungguh aku tidak mengenal siapa engkau, hei anak kecil.

Anak kucing: Tidak peduli siapa aku dan jangan pedulikan siapa diriku, sebab aku pun tidak tahu dari mana asal usulku. Sedari kecil, aku sudah terpisah dari ibu dan saudara-saudaraku yang lain. Aku ini anak sebatang kara…

Kucing hitam: Lantas, apa maumu?

Anak kucing: Sedari tadi Abang hanya duduk berdiam diri di sini, bahkan tidak mencari makan. Apakah Abang sudah makan?

Kucing hitam: Apa pedulimu? pergi sana! orang yang kutunggu-tunggu sedari tadi sudah datang membawakan makanan.

Si kucing hitam berlari menyambut kedatangan orang itu, orang yang sering memberi ia makan. Aroma tubuhnya dan suara langkah kakinya sangat dikenali oleh kucing hitam ini. Tapi, sungguh malang nasib si kucing. Orang itu tidak membawa makanan sisa malam ini, tidak membawa tulang belulang, bahkan hanya tangan kosong. Si kucing hitam berlari ke arahnya dan si anak kucing juga berlari mengejar kucing hitam.

Anak kucing: Bang…Bang…tunggu aku! Kau akan mendapatkan makanan? Aku mohon beri aku separuh saja, bahkan secuil. Aku mohon…

Kucing hitam berhenti di bawah kaki orang itu, menggelayut mesra pertanda meminta belas kasihan. Namun, orang itu hanya memberikan belaian kepada si kucing hitam. Anak kucing masih saja berceloteh, duduk tidak begitu jauh dari si kucing hitam.

Anak kucing: Siapakah orang itu Bang? Bila ia memberimu makanan, berilah aku separuh saja…aku mohon…aku mohon…

Kucing hitam berlalu melewati si anak kucing. Ia berjalan gontai, sambil sesekali menatap sendu ke wajah orang itu. Berharap sekali lagi bahwa orang itu sebenarnya membawa makanan untuknya namun sedang disembunyikan entah di mana. Orang itu, manusia itu, dengan perasaan iba sekali lagi hanya memberikan belaian saja dan ucapan “selamat malam”. Suara yang sangat dikenal oleh si kucing hitam.

Si anak kucing berjalan menyusul kucing hitam, ia mengikuti kemana kucing hitam itu pergi. Akhirnya tibalah mereka di suatu tempat kering, yang mampu melindungi tubuh mereka dari rintik-rintik hujan yang mulai turun lagi.

Anak kucing: Wahai Abang…mengapa kau bersedih? Apakah kau sangat kelaparan? Apakah seharian ini kau sudah makan? Kemarin siang aku menemukan segumpal daging ikan di dekat selokan itu. Aku memungutnya dan untungnya daging ikan itu masih terasa lezat di lidahku. Ayo kita ke sana…siapa tahu kita bisa menemukan makanan di sana.

Kucing hitam: Hhhh…siapa kau sebenarnya? Aku melihatmu berjalan dari arah selatan menuju ke sini beberapa waktu yang lalu, kelihatannya kau tersesat.

Anak kucing: Aku tidak tersesat. Aku hapal betul jalan ini. Aku sering melihatmu bermain-main di sekitar sini, aku bahkan sering berkhayal kapan aku bisa bermain-main denganmu. Tapi pada saat itu…aku masih sangat kecil. Aku takut kau akan menerkamku.

Si kucing hitam hanya diam saja, tidak sanggup menanggapi karena perut sudah keroncongan. Kemudian, si anak kucing berjalan menuju genangan air hujan di dekat mereka. Ia meminum air genangan tersebut. Air genangan yang berwarna coklat dan berpasir.

Anak kucing: Hmmm…nikmat rasanya. Abang, kau tidak haus?

Kucing hitam: Tidak, aku tidak haus. Lagipula, bila kau minum air genangan itu terlalu sering, kau bisa sakit.

Anak kucing: Aku sudah terbiasa. Aku harus meminum air apalagi? tidak ada manusia yang memberiku air minum bersih.

Kucing hitam: Terserah kau saja.

Anak kucing: Abang, aku lapar sekali. Kau tidak punya makanan sedikit pun?

Kucing hitam: Tidak, aku tidak punya. Satu hari ini, aku hanya memakan satu potong tulang ayam. Kenapa kau tidak meminta saja kepada manusia? kau pasti mampu memperlihatkan wajah memelasmu.

Anak kucing: Aku tidak begitu pandai mengambil hati manusia, aku bahkan takut kepada mereka. Bayangkan, tubuh mereka itu tinggi sekali seperti raksasa. Melihat kakinya saja aku takut.

Mereka berdua terdiam sejenak. Kemudian terdengar suara perut keroncongan dari dalam perut kedua kucing itu.

Anak kucing: Abang…aku tidak tahan lagi. Aku harus pergi mencari sesuatu untuk dimakan. Apakah kau akan ikut denganku?

Kucing hitam: Tidak, kau saja. Aku akan tidur di sini menunggumu hingga esok. Kau masih anak-anak, aku harap kau tidak tersesat selama di perjalanan.

Anak kucing: Kau baik sekali. Bila nanti aku mendapatkan makanan, maka makanan itu akan kumakan sendiri karena kau tidak ikut bersamaku. Apakah itu membuatmu sedih?

Kucing hitam: Kau makan saja makanan itu sepuasmu. Aku tidak akan sedih…sebab…suatu saat kau akan belajar bagaimana cara menahan lapar.

Si anak kucing berjalan mendekati si kucing hitam, ingin mencium hidungnya, keningnya, dan menghirup sekali lagi aroma tubuh si kucing hitam.

Anak kucing: AKu akan mengingat aroma tubuhmu. Terima kasih atas kebaikanmu…aku harus pergi sekarang…

Kucing hitam pun membalas kecupan anak kucing itu. Setelah itu, si anak kucing berjalan dengan gontai menuju ujung jalan. Perutnya yang keroncongan memperlambat gerak langkahnya. Hanya beberapa langkah, anak kucing itu duduk di tengah jalan. Ia tahu bahwa badannya tidak sanggup lagi menelusuri jalan tidak berujung. Tapi, ia harus mencari sesuatu untuk dimakan. Setidaknya, ia bisa menyambung nyawa hingga esok. Tak lama, anak kucing itu melangkah lagi sambil mengeong, meneriakkan suaranya yang kecil dan lirih, mengingatkan kepada manusia bahwa ia adalah seekor hewan yang sama-sama diciptakan untuk hidup berdampingan di atas bumi ini. Ia menoleh ke belakang ke arah kucing hitam.

Anak kucing: Kau pasti akan baik-baik saja hingga esok. Aku berdoa, semoga kau mendapatkan rezeki yang berlimpah esok hari dan selamanya. Sampai jumpa…

Kucing hitam: Hati-hati!

Rintik-rintik hujan sedikit demi sedikit membasahi tubuh anak kucing itu. Ia pun berlindung di bawah bunga talas. Perutnya keronconga, ia tahu itu.
Anak kucing: Tapi aku belum sanggup menangkap seekor tikus. Lagipula, kucing itu tidak memakan tikus, mereka hanya senang menangkapnya saja. Hhhh…aku tahu, malam ini atau esok…atau lusa…atau entah beberapa hari lagi…aku masih bisa bertemu dengan kucing hitam itu. Semoga saja, rezeki datang kepadaku juga.

Categories: Heaven's Unlimited
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: