Home > an Freunde denken > It’s Just The Way She Love Me

It’s Just The Way She Love Me

Farewell is just the start to learn how to be a good friend

Farewell is just the start to learn how to be a good friend

This picture has been taken by Talgat one day before Raikhan and Talgat went back to their land, Kazakhstan. Talgat is my friend too. At the first time I met him, I didn’t treat him like a friend. He was so annoying at those time coz he always chat or surf  in the internet. Almost his time he spend it in front of his laptop. He act like a child too and that made me insane. But in the end, I tried to think harder. How could I be so hate to him. He asked me one day about it, “how could you be so hate to me?” and truely…I realized that I wasn’t able to approve all of his negative character, the answer that I never told him no matter what. Deep in side my heart, I realized that I did wrong to him. I suppose to treat him better, I suppose to give him supports, and I should to think more possitive about him.

At those farewell day, I gave my apologize to Talgat and…I couldn’t even imagine that he accepted my apologize so easy. He gave me a happy smile at the station. I gave him some advices too, advices how to be a gentleman.

At 25th July 2006, Raikhan and Talgat went back to their land. At those night, I cried…cried…and cried…I can’t even sleep.  I can’t hold this sadness all by my self, so I sent a message to my friend in Indonesia at those night. The e-mail which I wrote was (in Bahasa Indonesia):

Siang tadi Raikhan pulang ke Kazakhstan…sedih hatiku…mengapa…pilu hatiku….
Pertama kali berjumpa dengan Raikhan adalah ketika aku melihat mereka (Raikhan dan Mitra) berjalan-jalan di sekitar kampus. Mitra mengajakku untuk minum champagne pada sore itu sebagai tanda pertemanan…dan aku tak menolaknya. Kemudian sejak saat itu Raikhan sering datang ke kamarku hanya untuk sekedar melihat dan bertanya “apa kabar?”
Awalnya kami tidak banyak bercakap-cakap. Bukannya tidak mau tetapi tidak tahu cara menyampaikannya dalam bahasa Jerman. Meskipun begitu dia tetap mengunjungiku meskipun pada bulan pertama kami tidak banyak bercerita…hingga akhirnya kami bisa berbahasa Jerman dan…kami pun mulai bercakap-cakap dimulai dari latar belakang keluarga Raikhan, kakaknya yang sangat disayanginya, teman-temannya yang selalu membuatnya ceria hingga masalah yang menimpa dirinya. Meskipun terkadang ada kekesalan terhadap dirinya…biarlah,toh dia juga manusia dan tidak seorangpun yang dapat merubah karakter dan sifat orang lain.
Dia jago banget minum vodka, tequila, dan beer. Alkoholik sih enggak…dia juga jago main kartu. Dia mengajari aku cara bermain kartu 101 khas Rusia. Oh ya,dia punya trick kartu yang tak seorang pun tau bagaimana tricknya. Dia bilang,  “ini bukan trick…”
Bulan-bulan terakhir sekitar May-Juli kami menghabiskan waktu dengan bermain kartu sambil menunggu Mitra yang asik berchatting ria di kamarku.
Dia memang kekanak-kanakan akan tetapi dia adalah orang yang paling mengerti dan paham akan seluruh keadaan yang terjadi diantara teman-temannya. Ketika dia mengerti, dia hanya diam…mudah memaafkan dan segera mencari jalan keluar yang terbaik. Hhh…Raikhan…Raikhan…Raikhan…
Orang yang selalu membangunkan aku ketika aku tertidur hingga jam 12 siang.
Orang yang selalu datang menggangguku ketika aku sedang mengerjakan skripsi.
Orang yang selalu datang untuk sekedar belajar bermain gitar.
Orang yang selalu berteriak dari luar jendela untuk memanggilku, “indriiiiiiii…indriiiiiii…..”
Orang yang selalu aku rindukan atas segala keluhannya terhadap musim panas di Erfurt.
Dia sering bilang,  “oh Gospati! heute ist sehr warm…! oh Gospati…”
Orang yang selalu berbahasa Rusia jika sedang kesal terhadap sesuatu dan I miss it a lot.
Dia juga sering bilang,  “bejit! iji na hui!”
Orang yang setiap hari datang ke kamarku…dan segera bercerita tentang apa yang terjadi terhadap dirinya hari itu juga dan tidak peduli apakah pada saat itu aku sedang sibuk ato tidak.
Kesal! tapi…ketika dia tidak datang,serasa ada yang janggal…aku merasa kehilangan.
Orang yang selalu kesal ketika aku tidak berbicara satu patah kata pun selama aku duduk di samping dirinya. Dia bilang, “warum sprichst du nicht?” ato “kenapa sih lo diem aja?”
Orang yang suka membangunkanku ketika aku ingin tidur tetapi dia belum ingin tidur.
Meskipun aku hanya sebagai tempat sampah ato ember bagi dirinya… Meskipun kami hanya berteman selama empat bulan lebih…dan tidak cukup mengenal satu sama lainnya…meskipun terkadang pertemanan ini berat sebelah…akan tetapi, satu hal yang aku tau bahwa saat ini aku ingin dia ada di kamar ini lagi dan bercerita…tidak peduli apakah dengan bahasa Rusia atau bahasa Jerman, sungguh aku tidak peduli karena aku ingin dia berada di sini…di sini…di sini…
Raikhan…Raikhan…Raikhan…
Tidak ada lagi jeritan dari luar jendela.
Tidak ada lagi ketukan pintu kamar yang keras dan lantam.
Tidak ada lagi orang yang marah-marah ketika aku gak mood untuk berbicara.
Tidak ada lagi orang yang menghadang aku di depan pintu untuk masuk ke kamarnya, aku tau dia hanya bercanda.
Tidak ada lagi orang yang bernyanyi-nyanyi dalam bahasa Rusia.
Tidak ada lagi orang yang menemani aku minum teh.
Tidak ada lagi orang yang mengganggu tidurku.
Tidak ada lagi teman yang mengajakku jalan-jalan sore…apalagi jalan-jalan malam.
Tidak ada lagi suara gitar cempreng.
Tidak ada lagi cacian dalam bahasa Rusia.
Tidak ada lagi orang yang menemani aku makan mi goreng peking.
Belum lagi satu hari berlalu, aku  sudah kehilangan dirinya. Kini tinggal kami bertiga; aku, Mitra,dan Christian. Aku membuat satu film dokumenter yang bercerita tentang kami berempat (aku, Mitra, Raikhan dan Christian) dan kemarin malam kami menontonnya bersama-sama. Masing-masing orang mendapat satu copy CD.
Hhh…alles ist vorbei
Kami punya rencana untuk mengadakan reuni di tahun 2010, entah di negara mana kami akan bertemu. Raikhan terlalu membekas di kehidupanku selama empat bulan lebih di Erfurt. Entahlah apa yang ia rasakan…
Mitra adalah orang yang paling sedih atas kepergian Raikhan karena Raikhan adalah teman satu flat-nya. Mungkin sekarang Mitra sedang menangis di dalam kamar soalnya tadi siang dia menangis dan setelah Raikhan pergi, dia bilang ke aku bahwa dia banyak menangis di dalam kamar atas perginya Raikhan dalam waktu yang cepat. Raikhan tidak mengetahui hal ini, tapi hati kecilku berkata bahwa Raikhan sudah mengetahui hal ini. Mata tidak bisa menipu.
Christian…mungkin dia juga sedih karena tidak ada lagi teman yang menemaninya dan mengajarinya minum vodka. Christian bilang, “du fahrst nach hause und ich bin allein…” ato “lo bentar lagi pergi dan aku bakal sendirian…”
Aku berharap reuni di tahun 2010 akan terwujud entah di negara mana…
_______the end______

That was the e-mail I’ve wrote about her to my friend.  If only she can speak Bahasa and read this blog, she could be fly into Indonesia and meet me as soon as possible. I miss you sooo much, Raikhan.

Categories: an Freunde denken
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: