Home > an Freunde denken > Revolved in The Mind

Revolved in The Mind

Seekor tikus remaja berlari kecil menelusuri lorong-lorong gelap, basah, dan bau. Hidungnya aktif mengendus setiap saat mencari sumber makanan penggugah nafsu. Tikus itu tidak peduli apakah jalur yang ia lewati basah penuh dengan darah benci, gelap seperti kehilangan cahaya, bau karena penuh dengan dendam kesumat, atau terang seterang-terangnya hingga musuh pun bisa melihat dirinya berlari ketakutan, atau bila ia harus melewati jalur terang yang penuh dengan tempat persembunyian, tikus itu tetap tidak peduli. Lapar dan dahaga ini perlu dipenuhi atau ia tidak dapat bertahan hidup di dunia yang penuh dengan sandiwara.

Di sudut kanan sana ada keju, di sudut kiri sana ada roti keju, dan di tengah-tengah ada gundukan tepung gandum. Semua itu akhirnya ia temukan dalam waktu yang bersamaan. Aroma tepung gandum mengiringi hidungnya untuk mendekat ke tengah. Gundukan tepung gandum ini bisa membuatnya bertahan hidup selama-lamanya sebab hingga ia mati pun tepung gandum ini tidak akan habis termakan. Tetapi ketika ia mendekat untuk menikmati tepung gandum ini, ia melihat ada seekor tikus dewasa lain yang sedang menyantap tepung gandum. Tikus remaja ini menjadi takut kemudian ia berlari ke arah sudut kanan di mana ia bisa menemukan keju. Keju itu sangat sedap dan menggiurkan di lidah, namun hanya sepotong dan akan habis dalam waktu satu hari saja. Si tikus tidak peduli, ia malah bergegas untuk melahap keju itu. Belum lagi ia menggigit keju itu, aroma roti keju dari kiri lebih menggiurkan hingga ia pun tergoda. Roti keju dipanggang hingga mengeluarkan aroma yang tidak terlupakan.

Lama ia berpikir dan menimbang-nimbang hingga akhirnya ia memutuskan untuk mendekati sumber aroma roti keju. Perjalanan sedikit berbahaya sebab ia harus melewati genangan air di hadapannya, melewati seekor tikus dewasa yang sedang melahap tepung gandum di tengah-tengah ruangan itu, dan tak jauh dari roti keju ada seekor kucing dewasa yang sedang hanyut dalam mimpinya .

Tikus itu berpikir kembali, menimbang-nimbang makanan apa yang harus ia santap. Keju kah? Roti keju kah? atau tepung gandum? Ia tidak begitu suka tepung gandum sebab itu adalah makanan murah dan kurang terkenal. Lama ia berpikir dan merenung, mondar-mandir dalam keheningan hingga akhirnya ia mengambil keputusan untuk memilih keju saja sebab ia takut dengan tikus lain yang sedang menggerogoti gundukan tepung gandum itu, dan tentu saja kucing adalah pembunuh ulung. Ia berbalik arah menuju keju yang terletak di sudut kanan dan itu artinya ia harus melewati genangan air, berjinjit kaku supaya tidak ada yang sadar akan kehadiran dirinya di tempat itu.

Dengan sabar ia berjalan melewati semua rintangan itu hingga akhirnya ia menemukan keju itu. Ia akan segera melahapnya, sejengkal lagi keju itu akan diraihnya, namun…ternyata sepotong keju itu berada di atas perangkap. Tikus remaja yang belum berpengalaman ini pun merintih kesakitan,meminta tolong kepada siapa saja yang bersimpatik terhadap deritanya.

Tikus Dewasa berhenti melahap gundukan tepung gandum dan kemudian berkata, “Kau telah curiga kepadaku wahai Teman. Aku ini temanmu, mengapa kau tidak memilih makan bersamaku di sini sejak awal? Apakah kau mengira bahwa aku ini musuhmu?”

Tikus remaja itu menjawab sambil merintih kesakitan, “Di dunia ini penuh dengan musuh dan jebakan. Lagipula tepung gandum itu tidak begitu enak bagiku.”

Tikus dewasa menghela nafas kemudian berkata, “Dari awal kau sudah tahu jawabannya, bahwa yang paling aman adalah memilih tepung gandum. Tapi ketahuilah bahwa, kau perlu kejernihan hati untuk membuat suatu keputusan.”

Tikus dewasa itu telah pergi dengan perut yang kenyang, sementara ia masih dalam perangkap. Ia menatapi gundukan tepung gandum itu dengan air liur yang tidak terbendung dan dengan rasa kesal menyadari bahwa gundukan tepung gandum itu tidak akan habis termakan meskipun ajal menjemput dirinya dan si tikus dewasa.

Note: A story to all my friends in this world.

Categories: an Freunde denken
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: