Home > an Freunde denken > An Old Buddy Founded After Years

An Old Buddy Founded After Years

“Kakak”, aku memanggilnya begitu sejak dulu. Bahkan hingga saat ini aku masih memanggil dirinya “kakak”, padahal udah hampir delapan tahun berlalu. Dulu kakak adalah pembina di PRAMUKA di sekolahku. Sudah menjadi tradisi di PRAMUKA untuk memakai sebutan “kakak” kepada senior atau kakak pembina, pria ataupun perempuan. Nah, dari kegiatan PRAMUKA pula aku mengenal kakak, si kakak yang bernama Iqbal.
Bila ditanya, kapan pertama kali berkenalan dengan kakak? hahaha…aku yakin bila kakak dilontarkan pertanyaan yang sama, pasti bingung. Bukan begitu, kak? Jadi seingatku, kami anggota Pramuka pernah berkemah di sekolah pada akhir tahun 2000. Perkemahan itu bertujuan untuk konsolidasi dan melantik para calon anggota Pramuka baru. Pada hari pertama kami disibukkan dengan berbagai kegiatan solidaritas; mulai dari membersihkan ruang kelas bersama, membentangkan tikar agar peserta dan panitia dapat beristirahat, memasang kain penutup jendela dan mengumpulkan peralatan logistik. Ketika hari mulai malam beberapa orang dari kami ditugaskan untuk menyisir jalur yang akan dilalui oleh junior, memasang kode-kode perintah dan informasi yang nanti akan digunakan oleh calon anggota Pramuka yaitu junior kami, sementara aku dan beberapa teman bertanggung jawab menjaga tenda, logistik dan regu-regu junior. Pak Nuri dan kak Tarman, mereka itu pembinanya, memberi beberapa materi survival dan kode-kode yang lumrah digunakan dalam Pramuka. Pak Nuri adalah pembina sekaligus guru biologi di sekolah, sebab itu kami memanggilnya “Pak Nuri”. Pada malam pertama itu, bukan ‘malam pertama’ pengantin yang aku maksud, melainkan malam di hari pertama berkemah saat itu. Jadi, pada malam pertama itu regu-regu junior akan diuji solidaritas, survival dan mentalnya. Kegiatan ini biasa disebut “jurit malam”. Entahlah, aku gak tahu kenapa disebut begitu. Inilah kegiatan yang sangat kami nantikan, bahkan alumni pun rela berkunjung ke TKP untuk sekedar melihat-lihat. Pukul delapan malam, kami semua makan malam bersama di dalam suatu ruang kelas yang sudah dikosongkan sedemikian rupa. Kemudian, masing-masing peserta dan panitia memperkenalkan diri. Aku memakai kata ‘peserta’ sebagai kata ganti ‘junior’ dan kata ‘panitia’ sebagai kata ganti ‘senior’ supaya mengabur status senioritasnya, meskipun senioritas tampak nyata di Pramuka. Pak Nuri dan kak Tarman asik memperhatikan dan duduk bersila dengan santai di sudut ruangan. Inilah asyiknya mengikuti suatu kegiatan, berkenalan dan berinteraksi dengan banyak orang. Makan bersama, berkumpul, bercerita, bercanda atau hanya sekedar memberitahu ‘siapa aku’. Aku tidak ingat kegiatan apa yang dilakukan setelah acara makan malam. Tapi yang pasti, aku melihat dua orang yang wajahnya teramat asing bagiku datang ke sekolah dan sedang berbincang-bincang dengan teman-temanku sesama panitia, sesama anggota Pramuka. Aku lupa memberitahukan di awal, bahwa pada tahun itu statusku adalah siswa pindahan, ‘anak baru’ istilahnya. Makanya aku gak kenal kedua orang itu, dua orang yang manis-manis itu.
Hahahaha…siapa e kong lu o lang bo sui la aah…? hahaha… Pada hari itu lah, di malam itu lah aku mengenal kakak. Saat itu kakak sudah menjadi mahasiswa di USU (Universitas Sumatra Utara). Sejak hari itu pula kami sering bertemu kakak ketika latihan Pramuka di hari sabtu tiap jam tiga sore. Sayang, kakak gak pernah ikut camping bersama kami di sekolah dan Sibolangit. Sangat disayangkan juga, aku dan teman-teman Pramuka gak bisa ikut Jambore Nasional akibat lambatnya koordinasi, rumitnya birokrasi dan kami cukup disibukkan oleh kegiatan belajar di sekolah. Kalau gak salah, waktu itu kami dihadapkan pada ujian caturwulan dan kakak dihadapkan pada ujian semester. Akh, itu semua alibi belaka kupikir. Intinya kami semua kurang berminat. Kalo berminat, tentu saja diusahakan dengan sungguh-sungguh. Padahal pernah suatu hari kak Tarman, si kakak dan teman-teman Pramuka datang ke rumah baruku di kawasan Padang Bulan untuk membicarakan tentang persiapan Jambore. Aku ikut berjalan kaki bersama mereka menuju rumah yang jauhnya 1,5 Km dari gerbang perumahan. Maafku yang sebesar-besarnya kepada kakak dan teman-teman karena telah merepotkan kalian pada hari itu. Terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kakak dan teman-teman Pramuka karena telah sudi mampir ke rumahku yang jauh di mata.
Bagiku, kunjungan kalian ke rumahku pada waktu itu sangatlah berkesan. Sebab, kalianlah yang pertama dan terakhir datang mengunjungi rumahku sejak tempat tinggal keluargaku pindah ke Padang Bulan dari kawasan Kampung Baru. Hanya teman-teman Pramuka yang pernah datang ke rumahku, berkumpul, berdiskusi, bercanda dan makan siang bersama di rumahku. Ini beneran! Hanya kalian yang pertama dan terakhir. Bahkan sampai detik ini, gak ada teman-temanku lainnya yang sudi mampir ke rumahku di kawasan Padang Bulan untuk sekedar ngumpul-ngumpul. Alasan mereka, rumahku jauh. Makanya, momen itu sangat berkesan bagiku. Sebab itu pula, hingga tahun 2009 ini aku mencari-cari jejak kalian. Namun, hanya Mira (teman sebangku dan anggota Pramuka) dan kakak yang ketemu jejaknya di tahun 2009 ini. Kakak sibuk dengan kuliahnya, kami pun sibuk dengan persiapan menghadapi Ebtanas beberapa bulan ke depan pada waktu itu. Para Bantara yang baru telah dilantik, kepengurusan pun diserahkan kepada mereka. Kami gak pernah lagi bertemu dengan kakak, aku dan kakak pun gak pernah lagi ngobrol-ngobrol panjang via telepon hingga perjumpaan kembali dengan kakak di tahun 2009 ini. Kelulusan SMU adalah akhir dari segalanya, perpisahan total terhadap teman-teman Pramuka dan kakak. Aku harus hijrah ke Bandung untuk melanjutkan studi. Pada zaman itu, gak banyak teman-teman yang menggunakan hape apalagi e-mail. Mira dan kakak sudah punya tapi aku gak tahu nomornya. Ingin menelepon ke rumah kakak dan Mira, tapi aku lupa di mana aku mencatat nomor mereka. Kalaupun ada, belum tentu aku menelepon mereka sebab tarif interlokal pada zaman itu masih mahal. Oh ya apa kabar dengan wartel di zaman sekarang ini? masih eksis kah? aku sendiri belum punya hape pada zaman itu. Lagipula saat itu nomor perdana mahal sekali, kalo gak salah harganya di atas 100rb. Aku membuat e-mail address pada tahun 2002. Aku masih ingat situs chatting yang paling digandrungi oleh para remaja pada tahun 2001-2002, yaitu MIRC dan ICQ. Bener gak? terus, e-mail server yang terkenal di indonesia pada tahun 2001-2002 adalah Plasa, Hotmail dan Yahoo.
Itu cerita sekitar tujuh tahun yang lalu, ketika kami; aku, kakak dan teman-teman Pramuka, masih bersatu dan akrab. Sekarang ya sudah terpisahkan oleh jarak, komunikasi pun terputus. Pada tahun 2005, aku mencari jejak kakak di salah satu situs jaringan sosial yang terkenal di Indonesia tapi hasilnya nihil. Begitu juga dengan pencarian jejak Mira. Mungkin mereka belum tertarik dengan situs jaringan sosial itu entah apa alasannya. Penting bagiku untuk menjalin komunikasi dengan mereka meskipun di dalam dunia maya. Sebab, momen-momen bersama mereka begitu membekas. Ingin rasanya mengulang kembali momen-momen semasa SMU dulu, masa di mana mereka ada. Mengobati rasa rindu, itu intinya. Sekarang di tahun 2009 ini, kami yaitu aku, mira dan kakak
dipertemukan kembali. Aku mendatangi kediaman orangtua Mira dan untungnya di sana aku bertemu dengan Mira. Aku kira setelah
pernikahannya dia gak tinggal bersama ortunya lagi dan ternyata perkiraanku itu salah. Kok bisa ketemu kakak?

Categories: an Freunde denken
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: