Home > Konsumensentris > Supir Taksi Malaysia Tidak Ramah

Supir Taksi Malaysia Tidak Ramah

Liburan ke Malaysia ibarat berlibur ke negri sendiri. Kota Kuala Lumpur mirip dengan kota Jakarta, yang membedakannya adalah kebersihan dan keramahan masyarakatnya. Poin pentingnya adalah, Indonesia adalah negara paling ramah sedunia!!! dan ini patut diberi penghargaan.

Kemarin aku baru balik dari KL (Kuala Lumpur) dengan menggunakan pesawat KLM boeing 809. Harga tiketnya murah banget, seperti harga tiket Lion Air Jakarta-Medan yaitu 700ribu rupiah. Pramugari dan pramugaranya adalah orang Belanda asli sebab pesawat itu memang milik Belanda, seperti Garuda Airlines saja. Mereka cukup ramah namun…bila dibandingkan dengan orang Indonesia, yah…keramahan Indonesia memang gak ada tandingannya.

Aku ceritakan kejadian yang masih fresh di dalam pesawat KLM itu tepat pesawat itu akan take off. Seorang ibu WNI dimarahi oleh seorang pramugari Belanda (pramugari dan pramugari Belanda bisa berbahasa Indonesia lho) karena kesalahpahaman nomor tempat duduk. Pasalnya seorang penumpang warga negara Malaysia bertukar tempat duduk dengan ibu WNI tanpa sepengetahuan ibu WNI (yang masih memegang tiket dengan nomor tempat duduk yang ditempati oleh penumpang Malaysia itu). Penumpang Malaysia bersikeras duduk di tempat itu agar berdekatan dengan keluarganya. Akhirnya i pramugari mengucapkan kata-kata “saya sangat marah…” (aku gak ingat kelanjutannya). Intinya, dua penumpang itu dimarahi dan penumpang WNI (seorang ibu) mengalah dan pindah ke tempat duduk lain yang masih kosong (saat itu pesawatnya penuh dengan penumpang dari Belanda dan Malaysia). Kata-kata “saya sangat marah…” terasa kasar di telingaku yang duduk di seberang kursi, sebab menurutku seorang pramugari gak pantas melontarkan kalimat ekspresi kekesalan di hadapan penumpang yang mana seorang penumpang adalah seorang konsumen yang memilih maskapai itu. Tentunya, seorang konsumen berhak mendapatkan pelayanan terbaik bukan? meskipun kesalahan ada di penumpang, tetap saja harus ditanggapi secara baik-baik oleh si pramugari kan?

Nah…kejadian ke dua. Tiga jam sebelum aku dan keluargaku berangkat menuju KLIA, aku singgah sebentar di Petaling Street atau biasa disebut China Town. Aku pun menyewa taksi menuju China Town dengan biaya RM10. Setelah mengitari China Town demi membeli banyak suvenir termasuk teh dan coklat, aku pun memilih taksi lagi untuk kembali pulang ke hotel di kawasan Bukit Bintang. Bukit Bintang adalah kawasan yang dipadati turis asin seperti kawasan Braga-Bandung, Kesawan-Medan, dan Radio Dalam-Jakarta. Di bagian luar taksi tertulis (Meter only, request prohibited). Artinya taksi itu memakai argo dan gak boleh ada tawar menawar. Aku menyetop taksi itu, taksi pun berhenti tepat di hadapanku namun dia tidak membuka jendela. Aku buka saja pintunya dan duduk di dalam untuk bertanya apakah bisa dilakukan tawar menawar atau hanya argo saja yang diperbolehkan. Aku menawarkan RM10 menuju Bukit Bintang, dan dia memintaku untuk menutup pintu taksi sambil mengomel dalam bahasa Melayu yang sumpah…aku gak ngerti dan intonasinya kasar banget. Intinya dia memberitahuku bahwa penumpang yang berlagak, dia tidak suka dan tidak akan dilayani atau diantar ke tempat tujuan.

Bingung…

Awalnya aku pikir, ini mungkin masalah perbedaan bahasa dan intonasi ataupun dialek. Tapi…bisa aku bandingkan dengan supir taksi Indonesia dari perusahaan taksi ternama dan terkenal senusantara yaitu dari Bluebird Group, bahwa supir taksi Indonesia tidak pernah sekalipun mengatakan hal seperti itu ke penumpangnya. Apalagi memvonis penumpang dengan kata-kata “berlagak…”

Aku tidak merespon supir taksi Malaysia itu. Cukuplah supir itu mengerti bahwa RM10 menuju Bukit Bintang dan memang supir itu mengerti. Kemudian supir itu bertanya tentang pekerjaanku, apa yang aku lakukan di Kuala Lumpur, nginap di mana, naik pesawat apa, dan akhirnya ia menawarkan jasa antar dari hotel menuju KLIA seharga RM70. Tapi dia menekankan bahkan menegaskan bahwa hanya tiga penumpang yang boleh masuk ke dalam taksinya dan hanya dua koper (luggage) saja yang dibolehkan masuk ke dalam bagasinya karena dia punya banyak barang pribadi di bagasi taksinya. Dalam hatiku, “What the f*ck?!”

Aku beritahu supir itu bahwa aku harus mendiskusikan penawaran ini ke keluargaku sebab kami ada tujuh orang, dengan lebih dari 10 koper (luggage) dan memerlukan dua taksi menuju KLIA (bandara internasional Malaysia). Tetapi supir itu malah berkata (seolah-olah dia merasa harus defense), “Oh…harus cepat lah. saya tunggu 10 menit. kalau tak dapat jawab 10 menit, saya tinggal lah. saya punya urusan lain ni.soalnya RM70 nak ke KLIA tak dapat lagi lah.tapi cuma 2 bag dan 3 orang saja. kalo nak banyak, saya nak cari taksi laen lah.”

Dalam hatiku, “who gives a shit! ente mau punya urusan ato enggak, I don’t care. masih banyak taksi lain…”

Akhirnya aku beritahu dia,” Aku cari taksi lain saja. nih 10 ringgit…” kemudian aku pun segera menutup pintu taksi itu dan masuk ke hotel.

Parah…parah…parah…

Emangnya dia aja yang punya taksi paling oke sedunia????!!!

Ternyata, taksi yang suka nongkrong tepat di depan hotel ini (di kawasan Bukit Bintang), di dekat Plaza Low Yat, dengan senang hati membawa kami menuju KLIA seharga RM70. Supirnya ramah, penumpang pun senang.

Categories: Konsumensentris
  1. nurseha
    August 11, 2010 at 21:12

    Terima kasih artikelnya, setidaknya saya mengetahui supir taxi di KL.
    Tahun depan saya akan ke KL bersama keluarga.
    Apakah kami(5 orang) dapat naik dalam 1 taxi?
    Terima kasih

    • August 20, 2010 at 07:59

      gak bisa mbak…
      paling banyak 4 orang, dan mereka sangat ketat dalam hal ini.
      daripada malu-maluin lebih baik kita sewa 2 taksi sedari awal, dan tunjukkan sikap profesional kita.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: